Rangkuman Utama
  • Perjalanan menuju Nagari Silago, Kecamatan IX Koto, Dharmasraya sepanjang 45,6 kilometer membutuhkan waktu hingga empat jam akibat kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah, minimnya sinyal komunikasi, dan pemadaman listrik.
  • Masyarakat di empat nagari di Kecamatan IX Koto mengeluhkan lambatnya pembangunan infrastruktur dasar yang menghambat akses pendidikan, kesehatan, serta perekonomian warga selama bertahun-tahun.
  • Akibat keterbatasan APBD Kabupaten Dharmasraya, pembangunan infrastruktur tersebut kini bertumpu pada harapan adanya dukungan anggaran dari Pemerintah Pusat (APBN) dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (APBD Provinsi).
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Oleh: Drs. H. Marlis, MM, C.Med ( CEO ALINIA GROUP )

Dharmasraya, 20 Juli 2026 – Pukul 08.15 WIB, langit Dharmasraya diselimuti awan kelabu. Gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan mengiringi langkah saya bersama Yogi, sang pengemudi, meninggalkan Alinia Park & Resort Sitiung menuju Nagari Silago, Kecamatan IX Koto. Tujuan perjalanan ini bukan untuk berwisata, melainkan meninjau progres pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekaligus mengantarkan satu unit IPAL sebagai bagian dari persiapan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di peta, jarak dari Pulau Punjung ke Silago hanya sekitar 45,6 kilometer. Namun di lapangan, angka itu kehilangan maknanya. Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu relatif singkat berubah menjadi empat jam penuh perjuangan.

229518

Aspal yang dahulu pernah dibangun kini tinggal menyisakan jejak. Jalan dipenuhi lubang, kubangan lumpur, tanjakan, tikungan tajam, serta badan jalan yang sempit. Setiap meter perjalanan memaksa kendaraan berjalan perlahan, berguncang, bahkan sesekali harus mencari jalur yang masih memungkinkan untuk dilewati. Hujan yang terus turun membuat semuanya semakin menantang.

Bagi kami, ini mungkin hanya sebuah perjalanan. Namun bagi masyarakat IX Koto, inilah kenyataan yang mereka hadapi setiap hari.

Sekitar pukul 12.15 WIB, kami akhirnya tiba di Silago. Namun petualangan belum berakhir. Listrik sedang padam. Sinyal telepon seluler nyaris tidak ada. Seakan-akan kami memasuki sebuah wilayah yang terputus dari hiruk-pikuk dunia luar.

“Kondisi seperti inilah yang sudah terlalu lama kami rasakan. Berbagai aspirasi telah kami sampaikan ke berbagai pihak, bahkan hingga ke tingkat pusat, tetapi sampai hari ini kondisinya belum banyak berubah,” ungkap M. Ramli, Wali Nagari Silago, dengan nada yang tenang namun sarat harapan.

Ucapan itu bukan sekadar keluhan. Ia adalah suara yang mewakili ribuan masyarakat di Kecamatan IX Koto yang selama bertahun-tahun menanti hadirnya pembangunan yang lebih merata.

Harus diakui, persoalan infrastruktur jalan di kawasan ini bukanlah pekerjaan ringan bagi Pemerintah Kabupaten Dharmasraya. Dengan kemampuan APBD yang terbatas, pembangunan ruas jalan menuju empat nagari di Kecamatan IX Koto sulit diselesaikan hanya mengandalkan anggaran kabupaten.

Karena itu, harapan masyarakat kini bertumpu pada dukungan Pemerintah Pusat melalui APBN maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui APBD Provinsi.

Jeritan itu tidak hanya datang dari Silago. Ia mewakili empat nagari di Kecamatan IX Koto, yaitu IV Koto Dibawah, Silago, Banai, dan Lubuk Karak. Empat nagari yang memiliki harapan yang sama: jalan yang layak, listrik yang andal, jaringan komunikasi yang memadai, serta akses yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Melalui feature sederhana ini, semoga suara masyarakat IX Koto dapat sampai ke telinga para wakil rakyat dari daerah pemilihan Sumatera Barat, baik di DPR RI maupun DPRD Provinsi Sumatera Barat, di antaranya Andre Rosiade, Zigo Rolanda, Athari Gauthi Ardi, Lisda Hendrajoni, Rahmat Saleh, Alex Indra Lukman, Rico Alviano, Sadiq Pasadigoe, Zaksai Kasni, Varel Oriano, Daswanto, serta anggota legislatif lainnya.

Sebab bagi masyarakat IX Koto, jalan bukan sekadar hamparan aspal.

Jalan adalah akses menuju sekolah. Jalan adalah jalur ambulans menuju rumah sakit. Jalan adalah denyut nadi ekonomi rakyat. Dan jalan adalah simbol kehadiran negara di pelosok negeri.

Semoga suatu hari nanti, perjalanan 45,6 kilometer menuju IX Koto tidak lagi menghabiskan empat jam, melainkan menjadi bukti bahwa pembangunan benar-benar telah menyentuh setiap sudut Indonesia, tanpa membedakan apakah mereka tinggal di pusat kota ataupun di pelosok negeri. (*/ Marlis – CEO ALINIA GROUP )