Rangkuman Utama
  • Perusahaan media dituntut untuk adaptif terhadap perubahan perilaku pembaca dengan mengembangkan berbagai platform dan menentukan positioning yang jelas agar tetap relevan.
  • Pengelolaan relasi dan pemangku kepentingan secara profesional menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlangsungan organisasi media sekaligus memperkuat fungsi kontrol sosial.
  • Wartawan harus memiliki keberanian, positioning yang kokoh, serta penguasaan materi yang mendalam sebelum melakukan wawancara guna menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PADANG – Perubahan perilaku pembaca menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan oleh perusahaan media. Perkembangan teknologi dan perubahan zaman membuat pembaca terus bergerak, sehingga media dituntut mampu beradaptasi sekaligus menentukan posisi yang jelas agar tetap relevan.

Hal itu disampaikan Muhammad Mufti Syarfie saat berdialog dengan organisasi Asantara di Hotel Rangkayo Basa pada hari Sabtu, (15/08). Ia yang menilai media harus mampu membaca perkembangan segmen pembacanya. Menurut dia, positioning menjadi salah satu faktor penting yang harus ditentukan agar media dapat bertahan dan berkembang di tengah perubahan ekosistem informasi.

“Media harus bisa mengikuti segmen pembaca. Pembaca media itu akan berubah dan berkembang sesuai zamannya, maka positioning kita perlu ditentukan,” kata Muhammad Mufti Syarfie.

Menurutnya, media juga tidak seharusnya terpaku pada satu platform. Pengembangan organisasi media perlu diarahkan agar mampu hadir di berbagai kanal, mulai dari televisi, radio, media cetak, media online hingga bentuk media konvensional lainnya.

Ia berharap keberadaan Asantara dapat semakin luas dengan memanfaatkan berbagai platform tersebut. Dengan demikian, media tidak hanya mampu menjangkau pembaca yang lebih beragam, tetapi juga memiliki ruang untuk terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

“Berharap Asantara ada di berbagai segmen, seperti TV, radio, cetak, online dan konvensional lainnya sehingga dapat berkembang,” ujarnya.

Mufti juga menekankan pentingnya membangun relasi dan mengelola pemangku kepentingan dalam menjaga keberlangsungan organisasi media.

Menurut dia, terdapat dua hal yang sangat menentukan perjalanan sebuah organisasi, yakni relasi dan pemangku kepentingan. Relasi merupakan jaringan yang dapat memberikan pengaruh terhadap organisasi, sedangkan pemangku kepentingan merupakan pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap organisasi dan perlu dikelola dengan baik.

“Dua yang menentukan nasib organisasi, yaitu relasi dan pemangku kepentingan. Relasi yang dapat berpengaruh terhadap organisasi, sementara pemangku kepentingan adalah pihak yang berkepentingan dengan organisasi untuk dikelola,” katanya.

Dalam konteks jurnalistik, keberadaan relasi bukan sekadar memperluas jaringan. Relasi juga menjadi bagian penting dalam membuka akses informasi dan memperkuat posisi media ketika menjalankan fungsi kontrol sosial.

Namun, kekuatan tersebut tetap harus dibarengi dengan profesionalisme dan independensi wartawan. Sebab, semakin luas jaringan dan pengaruh seorang wartawan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Profesi yang Karyanya Tak Pernah Mati

Mufti menyebut profesi wartawan memiliki karakter yang berbeda dibandingkan pekerjaan lainnya. Menurut dia, wartawan dapat disebut sebagai profesi seumur hidup karena karya jurnalistik yang dihasilkan dapat terus dibaca dan menjadi bagian dari rekam sejarah.

“Profesi wartawan adalah profesi seumur hidup. Tidak ada wartawan yang mati, karena karyanya akan terus hidup,” ujarnya.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa pekerjaan wartawan tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan profesinya. Berita, laporan, investigasi maupun tulisan yang pernah dibuat dapat tetap hidup dan memberikan pengaruh kepada masyarakat jauh setelah karya tersebut diterbitkan.

Karena itu, wartawan dituntut memahami besarnya tanggung jawab yang melekat pada profesinya.

Tekanan Besar, Pengaruh Juga Besar

Menurut Mufti, wartawan merupakan profesi dengan tekanan sekaligus pengaruh yang besar. Wartawan berhadapan dengan berbagai kepentingan ketika menjalankan tugas jurnalistik, sehingga keberanian menjadi salah satu modal penting.

“Wartawan ini tekanannya besar, pengaruhnya juga besar, maka wartawan harus memiliki keberanian dan positioning,” katanya.

Keberanian yang dimaksud bukan semata-mata keberanian menghadapi tekanan, tetapi juga keberanian untuk tetap berada pada prinsip jurnalistik, menggali fakta dan menyampaikan informasi yang dibutuhkan publik.

Ia menilai kekuatan seorang wartawan justru terletak pada positioning yang dibangun dalam menjalankan profesinya. Wartawan memiliki ruang untuk berinteraksi dengan berbagai sektor kehidupan, termasuk pemerintahan, dunia usaha, masyarakat dan berbagai institusi lainnya.

“Kekuatan wartawan itu terletak pada positioning-nya. Wartawan itu kuat karena profesinya yang bisa masuk ke berbagai sektor kehidupan dan pemerintahan,” ujarnya.

Karena itu, wartawan harus mampu memahami posisi dan perannya sejak awal. Positioning tidak hanya berkaitan dengan citra pribadi atau media tempat bekerja, tetapi juga menyangkut sikap profesional dalam menjalankan fungsi jurnalistik.

“Ketiga, kita harus menentukan positioning dalam menjalankan profesi sebagai wartawan,” katanya.

Tahu Sebelum Bertanya

Selain keberanian dan positioning, Mufti mengingatkan wartawan agar memiliki pengetahuan yang cukup sebelum menemui narasumber.

Menurutnya, wartawan tidak boleh datang kepada informan tanpa memahami terlebih dahulu persoalan yang hendak digali. Pengetahuan awal akan menentukan kualitas pertanyaan sekaligus membantu wartawan mendapatkan informasi yang lebih tajam dan relevan.

“Wartawan itu mesti tahu dulu sebelum menanyakan informasi kepada setiap informan untuk membuat berita,” tegasnya.

Dengan memahami isu sebelum melakukan wawancara, wartawan dapat menghindari pertanyaan yang dangkal dan mampu menguji informasi secara lebih kritis. Proses tersebut pada akhirnya akan menghasilkan karya jurnalistik yang lebih bernilai bagi publik.

Di tengah perubahan pola konsumsi informasi, tuntutan terhadap wartawan pun semakin besar. Media dituntut mengikuti perubahan pembaca, sementara wartawan dituntut memperkuat kapasitas, jaringan, keberanian dan positioning.

Pada akhirnya, keberlangsungan media tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengikuti perkembangan teknologi. Lebih dari itu, media membutuhkan wartawan yang memahami siapa pembacanya, memiliki jaringan yang luas, mampu mengelola kepentingan, serta berani berdiri dengan posisi jurnalistik yang jelas.