PADANG, NUSATIME.ID— Wacana pelibatan kantin sekolah sebagai dapur produksi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat perhatian serius dari DPW Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD GEMAS) Provinsi Sumatera Barat. Ketua DPW HMD GEMAS Sumbar, Drs. H. Marlis, MM, C.Med, menilai setiap perubahan sistem pelaksanaan MBG harus dikaji secara matang, komprehensif, dan tidak boleh mengabaikan keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah dibangun para mitra.
Menurut Marlis, SPPG bukan sekadar tempat memasak. Pembangunan dan operasionalnya membutuhkan investasi besar serta harus memenuhi berbagai persyaratan teknis, sanitasi, keamanan pangan, sumber daya manusia, dan standar operasional yang ditetapkan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kami mendukung penuh Program Makan Bergizi Gratis sebagai program strategis Presiden Prabowo Subianto. Justru karena program ini sangat penting, setiap perubahan sistem harus dilakukan berdasarkan kajian yang matang, bukan sekadar pertimbangan bahwa kantin sekolah lebih dekat dengan penerima manfaat,” ujar Marlis.
Ia menilai pemanfaatan kantin sekolah memang dapat menjadi salah satu alternatif untuk kondisi atau wilayah tertentu. Namun, apabila kantin akan menjalankan fungsi produksi sebagaimana SPPG, maka standar infrastrukturnya, sanitasi, higiene, keamanan pangan, tenaga ahli, kapasitas produksi hingga sistem pengawasan harus terlebih dahulu dipastikan.
“Pertanyaannya sederhana: apakah seluruh kantin sekolah sudah memenuhi standar yang dipersyaratkan untuk memproduksi makanan dalam jumlah besar? Kalau belum, siapa yang membangun dan membiayai peningkatan fasilitas tersebut? Ini harus dihitung secara objektif,” katanya.

Investasi Mitra Harus Dilindungi
Marlis juga mengingatkan bahwa para mitra telah mengeluarkan investasi yang tidak sedikit untuk membangun SPPG sesuai petunjuk teknis dan kebutuhan program MBG. Sebagian bahkan baru beroperasi dalam hitungan bulan sehingga investasi yang dikeluarkan belum kembali.
Karena itu, menurutnya, apabila pemerintah melakukan perubahan kebijakan secara drastis tanpa skema transisi dan perlindungan yang jelas, mitra berpotensi mengalami kerugian besar.
“Mitra membangun SPPG karena percaya dan ingin berpartisipasi menyukseskan program pemerintah. Bangunan, peralatan dapur, instalasi, kendaraan distribusi hingga tenaga kerja disiapkan dengan investasi yang besar. Maka sangat tidak adil apabila investasi tersebut kemudian kehilangan fungsi akibat perubahan kebijakan secara tiba-tiba,” tegasnya.
Menurut Marlis, persoalan ini bukan semata-mata berbicara mengenai keuntungan mitra. Ada kepastian investasi, keberlangsungan tenaga kerja, keamanan pangan, kualitas makanan serta keberlanjutan pelayanan kepada penerima manfaat yang harus diperhitungkan.
Jangan Mundur dari Sistem yang Sudah Dibangun
HMD GEMAS Sumbar berpandangan bahwa sistem SPPG yang telah dibangun dan terus disempurnakan sebaiknya tetap menjadi tulang punggung pelaksanaan MBG, sementara kemungkinan pelibatan kantin sekolah dapat dikembangkan secara selektif sebagai bagian dari penyempurnaan program, bukan serta-merta menggantikan SPPG yang sudah memenuhi standar.
“Jangan sampai kita membongkar sistem yang sedang dibangun sebelum memiliki sistem pengganti yang terbukti lebih baik, lebih aman, lebih efisien dan lebih akuntabel. Kalau kantin sekolah akan dilibatkan, silakan dikaji. Tetapi jangan mengorbankan SPPG dan mitra yang sejak awal sudah berinvestasi dan bekerja mendukung program ini,” kata Marlis.
Ia meminta BGN melibatkan organisasi mitra, ahli gizi, praktisi keamanan pangan, sekolah serta pemangku kepentingan lainnya sebelum mengambil kebijakan strategis mengenai perubahan pola penyediaan MBG.
“HMD GEMAS Sumbar pada prinsipnya mendukung setiap evaluasi dan inovasi untuk memperbaiki MBG. Tetapi kebijakan harus memberikan kepastian, menjamin kualitas makanan dan melindungi investasi mitra yang telah dibangun berdasarkan ketentuan pemerintah. Jangan sampai niat melakukan efisiensi justru melahirkan persoalan baru,” pungkas Drs. H. Marlis, MM, C.Med, Ketua DPW HMD GEMAS Sumbar. (*/Redaksi )



Tinggalkan Balasan