PADANG, NUSATIME.ID — Komitmen menghidupkan kembali denyut sepak bola usia muda di Ranah Minang mulai memasuki babak baru. Tokoh sepak bola Sumatra Barat, Renol “Palek” Fadli, kini tengah mematangkan serangkaian persiapan teknis menjelang kick-off Liga Pelajar Sumbar yang dijadwalkan bergulir pada 16 Oktober 2026.

Langkah konkret pun terus berjalan. Palek saat ini fokus menyelesaikan legalitas kegiatan sekaligus mengantongi rekomendasi resmi dari berbagai instansi terkait, termasuk Dinas Pendidikan serta Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumbar.

Selain kesiapan administratif, aspek branding turnamen juga sedang digarap serius. Menilik rekam jejak panjang kompetisi usia muda yang pernah berjaya di masa lalu, beberapa opsi nama resmi tengah dirancang, mulai dari Liga Pelajar Azwar Anas Cup, Liga Pelajar Mahyeldi Cup, hingga Liga Pelajar Piala Gubernur.

“Tujuan utama kita menggelar Liga Pelajar ini adalah menyediakan wadah nyata bagi para siswa untuk menyalurkan bakat, sekaligus memperbanyak kuantitas kompetisi usia muda di Sumbar,” tegas Palek di Padang, Selasa (15/9/2026).

Ia menambahkan, selain menyelaraskan langkah dengan program pemerintah, ajang ini menjadi instrumen vital dalam pembinaan pemain. Mengasah potensi pesepak bola muda tidak cukup hanya mengandalkan rutinitas latihan harian.

Berdasarkan standar pembinaan sepak bola modern, para calon bintang masa depan membutuhkan menit bermain yang kompetitif agar mental, visi bermain, dan pemahaman taktik mereka terasah secara optimal.

“Idealnya, seorang pemain muda mencatatkan 30 hingga 40 pertandingan kompetitif dalam satu musim untuk mencapai pematangan performa. Liga Pelajar ini hadir untuk memenuhi kebutuhan jam terbang tersebut,” terangnya.

Secara ideal, rasio antara latihan dan pertandingan berada di angka 3:1 atau 4:1 artinya, setiap 3–4 sesi latihan intensif wajib ditutup dengan 1 pertandingan resmi bertensi tinggi.

Selama ini, banyak talenta daerah mengalami stagnasi potensi saat naik ke level senior karena hanya mencatatkan 10–15 laga per tahun akibat minimnya turnamen resmi.

Kehadiran kembali Liga Pelajar Sumbar diharapkan menjadi solusi konkret untuk memotong krisis menit bermain tersebut, sekaligus menjadi kawah candradimuka lahirnya pesepak bola profesional baru dari Ranah Minang. (sal)