- Sardian (62), penjual surat kabar di Jalan Permindo, Kota Padang, tetap bertahan melakoni profesinya selama 48 tahun di tengah penurunan minat baca media cetak akibat disrupsi digital.
- Dengan menjajakan sekitar 63 eksemplar surat kabar per hari, ia bertahan dengan pendapatan bersih Rp35.000 hingga Rp40.000 per hari untuk menopang kebutuhan keluarga dan biaya pendidikan anak-anaknya.
- Sebagai garda akhir distribusi informasi pers selama hampir setengah abad, Sardian menyayangkan minimnya kepedulian dan pengakuan dari industri media terhadap eksistensi para penjual koran jalanan.
PADANG, NUSATIME.ID — Pagi baru saja bergerak di Jalan Permindo, Kota Padang. Kendaraan riuh melintas, orang-orang lalu-lalang dengan pandangan tertuju pada layar smartphone di genggaman. Di tengah riuk pikuk era digital yang serba cepat itu, tepat di depan Restoran Selamat, seorang pria berusia 62 tahun duduk bersahaja menjaga sesuatu yang makin sunyi dicari orang: tumpukan koran cetak.
Pria itu bernama Sardian. Di hadapannya, lembaran Kompas, Padang Ekspres, Singgalang, Haluan, hingga Post Metro terjejer rapi. Judul-judul berukuran besar terpampang melintasi halaman depan, mewartakan riwayat, politik, hingga dinamika negeri.
Mata Sardian sesekali menatap langkah orang-orang yang melintas. Berharap ada kaki yang terhenti, jemari yang merogoh saku, dan tangan yang membawa pulang selembar berita. Namun, lebih sering langkah-langkah itu berlalu tanpa menoleh.
Sardian kembali menunggu.
Trotoar Jalan Permindo pagi itu bak panggung perjumpaan dua zaman. Di satu sisi, dunia bergerak dalam hitungan detik melalui piksel dan layar sentuh. Di sisi lain, Sardian mendekap erat sisa-sisa peradaban kertas—menunggu pembaca yang kian langka.

Dari Terminal Hingga Era Layar Kaca
Hampir setengah abad—tepatnya 48 tahun—kehidupan Sardian berputar di lingkaran yang sama. Ia mulai mengasong surat kabar pada 1978 di Terminal Lintas Andalas, sebelum akhirnya menetap di depan Restoran Selamat sejak tahun 2000.
Ia adalah saksi hidup kejayaan tinta cetak, masa ketika masyarakat merindukan deretan kata di sabtu atau minggu pagi. Namun zaman berotasi. Dulu orang merindukan koran; kini, koran yang merindukan pembeli.
“Sehari saya bawa sekitar 63 eksemplar,” tutur Sardian. Rinciannya: 8 eksemplar Kompas, 15 eksemplar Padang Ekspres, 10 eksemplar Singgalang, 5 eksemplar Haluan, dan 25 eksemplar Post Metro.
Jika seluruh koran itu tandas, pendapatan bersih yang dibawanya pulang hanya berkisar Rp35.000 hingga Rp40.000 sehari. Nilai yang teramat minim untuk menopang kehidupan bersama seorang istri dan empat anak—di mana satu masih duduk di bangku SMA dan satu lainnya tengah menempuh pendidikan tinggi. Untuk menutupi kekurangan, Sardian tak segan melakoni pekerjaan serabutan apa saja.
Tak banyak yang tahu, pria yang saban hari bergelut dengan debu jalanan ini pernah mencicipi bangku kuliah hingga lima semester di Universitas Bung Hatta, setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Teknik Menengah (STM). Takdir kemudian menuntunnya ke jalan yang berbeda, menjadikannya penjaja berita demi menjaga dapur rumah tangga tetap mengepul.
Rasa Hiba di Ujung Mata Rantai
Bagi Sardian, koran bukan sekadar barang dagangan. Di antara lembaran-lembaran harian itu, tertanam separuh dari perjalanan usianya. Namun di balik keteguhan itu, tersimpan rasa hiba yang teramat sunyi.
Selama hampir 50 tahun menjadi ujung tombak yang mempertemukan karya jurnalistik dengan pembaca, Sardian mengaku tak pernah sekali pun disapa oleh industri yang ikut ia hidupi. Tak ada wartawan, editor, apalagi manajemen media yang datang sekadar bertanya bagaimana kabarnya di pinggir jalan.
Koran-koran itu tiba di lapaknya setiap subuh, namun orang-orang di balik pembuatannya tak pernah hadir.
Sardian tidak sedang menuntut penghargaan, apalagi mengemis belas kasihan. Sebagai manusia, ia hanya merindukan hal yang paling mendasar: diakui keberadaannya. Ia hanya membayangkan ada seseorang dari dunia pers yang sudi duduk sebentar di lapaknya, menanyakan berapa eksemplar yang laku hari ini, atau sekadar bertanya bagaimana rasanya bertahan di tengah gempuran ombak digital.
Inilah ironi terbesar dalam hidup Sardian. Setiap hari ia menjual ribuan kisah perjuangan, kemanusiaan, dan keadilan orang lain, sementara kisah perjuangannya sendiri di balik tumpukan kertas itu nyaris tak pernah dianggap ada.
Menjaga Martabat di Tengah Ombak Digital
Gelombang internet dan media sosial memang telah menggerus lapak-lapak koran di sudut kota. Pembeli menyusut tajam, namun Sardian menolak untuk tumbang.
Keberadaannya di Jalan Permindo bukan bentuk penolakan terhadap kemajuan teknologi, melainkan wujud kesetiaan pada profesi yang telah memberinya penghidupan dan membesarkan anak-anaknya. Di usia kepala enam, ketimbang meminta-minta, ia memilih tetap berdiri tegak dan bekerja.
Namanya mungkin tak akan pernah tercantum di boks redaksi. Tangannya tak pernah menari di atas papan ketik untuk menulis headline, tak pula mengoperasikan mesin cetak raksasa. Namun tanpa tangannya, mata rantai informasi itu tak akan pernah sampai ke jemari pembaca.
Rambutnya kini telah memutih seluruhnya. Ombak zaman terus bergulir tanpa kompromi. Namun besok pagi, ketika headline koran berganti dan nama-nama baru memenuhi halaman berita, Sardian dipastikan akan tetap ada di tempat yang sama.
Menunggu.
Sudah 48 tahun ia menjajakan cerita tentang orang lain. Barangkali, kini sudah saatnya dunia pers menoleh sejenak, mendengarkan, dan memberikan penghormatan tertinggi untuk Sardian. Bukan karena rasa iba, melainkan atas nama martabat, tanggung jawab, dan keberanian seorang manusia yang menolak menyerah pada zaman. (*/Marlis)



Tinggalkan Balasan