PADANG, NUSATIME.ID — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat mendesak pemerintah daerah segera mengevaluasi tata ruang dan memulihkan ekosistem hulu Gunung Talang. Langkah drastis ini dinilai mendesak usai bencana banjir bandang (galodo) menerjang kawasan Arosuka, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, pada Senin (21/9/2026) malam.

Direktur Eksekutif WALHI Sumbar, Tommy Adam, menegaskan bahwa fenomena air bah yang memuntahkan material lumpur, potongan kayu, hingga bongkahan batu besar tersebut tidak bisa disederhanakan sekadar dampak cuaca ekstrem.

“Hujan deras hanyalah pemicu di lapangan. Besarnya dampak galodo Arosuka berkaitan langsung dengan kerusakan ekologis di kawasan hulu, alih fungsi lahan, dan buruknya tata ruang,” tegas Tommy saat memberikan keterangan pada Rabu (23/9/2026).

Analisis lingkungan WALHI menunjukkan bahwa alih fungsi lahan yang masif di kawasan resapan air hulu Gunung Talang telah menggerus daya dukung dan daya tampung lingkungan secara signifikan. Akibatnya, saat gempuran hujan berintensitas tinggi terjadi, tanah kritis di area hulu tak lagi sanggup menyerap air. Kondisi ini memicu limpasan air permukaan (run-off) berskala besar yang menyeret material vulkanik dan vegetasi menerjang permukiman warga di Arosuka.

Merespons krisis tersebut, WALHI Sumbar melayangkan empat poin desakan resmi kepada Pemerintah Kabupaten Solok dan Pemerintah Provinsi Sumbar, pertama meninjau ulang penetapan kawasan budi daya dan kawasan lindung di sepanjang lereng Gunung Talang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Menghentikan sementara seluruh aktivitas ekstraktif maupun izin pembukaan lahan baru yang berpotensi memperparah kerentanan bencana hidrometeorologi di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS).

Melakukan reforestasi taktis menggunakan vegetasi berakar dalam untuk mengikat struktur tanah lereng yang kian labil.

Membangun sistem peringatan dini (early warning system) yang terintegrasi agar warga di sepanjang DAS mendapatkan informasi ancaman luapan air secara real-time.

Hingga berita ini diturunkan, jajaran Pemkab Solok bersama tim gabungan masih berfokus pada penanganan darurat, pembersihan sisa material galodo di permukiman warga, serta pendataan total kerusakan. Sementara itu, upaya konfirmasi kepada dinas terkait mengenai rencana evaluasi tata ruang di kawasan hulu Gunung Talang masih terus diupayakan. (**)