PADANG,NUSATIME.ID— Menanggapi polemik dan kerumitan terkait kepastian serta tata kelola pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat, tokoh olahraga Sumbar, Ediswal, mendesak seluruh pemangku kepentingan untuk kembali melihat akar permasalahan secara mendasar.

Ediswal menegaskan pentingnya mengevaluasi kondisi yang ada dengan meletakkan landasan kearifan lokal. Ia mengutip filosofi Minangkabau yang berbunyi, “Kusuik di ujang, kembali ka pangka“ (Kusut di ujung, kembali ke pangkal).

Menurut Ediswal, ungkapan adat tersebut mengandung pesan filosofis yang sangat relevan dalam menyelesaikan kebuntuan Porprov saat ini. Ungkapan ini bermakna bahwa apabila suatu perkara, sengketa, atau masalah sudah sedemikian rumit dan tidak kunjung menemukan jalan keluar di tingkat hilir, maka semua pihak harus berani menghentikan perdebatan sejenak dan kembali mencari asal-usul atau akar permasalahannya dari awal.

“Ketika benang sudah terlanjur kusut di ujung, kita tidak akan bisa menguraikannya dengan memaksa menarik-narik bagian yang makin membuhul. Kita harus merunutnya kembali ke pangkal ke titik awal di mana benang itu mulai terbelit,” tegas Ediswal saat mengomentari ketidakpastian pelaksanaan ajang olahraga multievent terbesar di Sumbar tersebut, Sabtu (26/9/26)

Lebih lanjut, Ediswal mengingatkan optimisme yang terkandung dalam filosofi pelengkapnya, yakni “Dak adoh kusuik nan indak bisa disalai, dak adoh karuah nan indak bisa dijernihkan“ (Tidak ada kusut yang tidak bisa diurai, tidak ada keruh yang tidak bisa dijernihkan).

Ia menjabarkan bahwa pesan ini memuat keyakinan mendasar dalam kebudayaan Minangkabau, seberat atau serumit apa pun dinamika politik, keterbatasan anggaran, maupun perbedaan pendapat yang terjadi dalam persiapan Porprov, pasti selalu ada jalan keluar selama semua pihak beritikad baik untuk duduk bersama.

“Maksud dari ‘dak adoh kusuik nan indak bisa disalai‘ adalah menegaskan bahwa tidak ada persoalan yang abadi atau tanpa solusi. Kuncinya ada pada kemauan untuk berkomunikasi secara rasional, mengesampingkan ego sektoral, dan menggunakan kepala dingin,” jelas Ediswal.

Ia menambahkan, permasalahan awal yang perlu dibuka kembali secara transparan meliputi komitmen anggaran, kejelasan regulasi, hingga sinkronisasi komunikasi antara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Barat, kabupaten/kota, pemerintah daerah, serta pengurus cabang olahraga (cabor).

Tanpa adanya keberanian untuk duduk bersama dan mengurai simpul awal permasalahan tersebut, Ediswal mengkhawatirkan Porprov hanya akan menjadi wacana yang terus berlarut-larut dan merugikan para atlet yang telah lama berlatih.

“Kembali ke pangkal bukan berarti kita mundur, melainkan cara paling bijak untuk menemukan fondasi yang benar. Ingat, tidak ada benang kusut yang tak bisa diurai jika kita memulainya dari simpul yang tepat. Ini demi masa depan atlet dan prestasi olahraga Sumatera Barat,” pungkasnya. (**)