PALEMBANG, NUSATIME.ID — Pelaksanaan babak 38 besar Piala Soeratin U-17 Grup 2 yang berlangsung di Palembang diwarnai kericuhan non-teknis. Dua klub peserta, Josal FC (Sumatra Barat) dan Putrad PB (Lampung), menyatakan bersiap melayangkan surat protes resmi kepada Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Pusat atas dugaan perlakuan tidak adil serta intimidasi di lapangan.

Langkah hukum organisasi ini diambil setelah kedua manajemen menilai prinsip fair play dan law of the game dalam turnamen pembinaan usia muda tersebut telah terabaikan, khususnya saat bertanding melawan tim tuan rumah.

Direktur Teknik Josal FC, Alan Marta, mengonfirmasi bahwa pihaknya bersama Putrad PB telah menyampaikan laporan awal secara lisan kepada pengurus PSSI Pusat. Namun, untuk memperkuat substansi laporan, berkas protes resmi disertai bukti-bukti pendukung akan segera dikirimkan.

“Kami tidak sedang mencari-cari alasan atas sebuah hasil pertandingan. Langkah tegas ini kami ambil semata-mata agar iklim pembinaan pesepak bola muda di daerah tidak dikorbankan oleh praktik-praktik un-sportif,” tegas Alan Marta saat dihubungi, Kamis (1/10)].

Menurut manajemen Putrad PB, dugaan pelanggaran yang terjadi tidak hanya terbatas pada kepemimpinan wasit yang dinilai memihak, tetapi juga menyasar keselamatan fisik dan mental para pemain muda. Pihaknya mengklaim mendapat tekanan serta intimidasi, baik secara verbal maupun fisik yang memaksa tim tetap melanjutkan laga di bawah situasi tidak kondusif.

Kondisi tersebut memicu keprihatinan mendalam dari para praktisi sepak bola daerah. Ajang Piala Soeratin U-17 yang dirancang sebagai wadah pembentukan talenta masa depan nasional dikhawatirkan berubah menjadi sarana destruktif jika tidak segera dievaluasi secara menyeluruh.

“PSSI Pusat harus turun tangan dan mengetahui realitas yang kami hadapi di lapangan. Ini bukan lagi soal kalah atau menang, melainkan demi masa depan dan kehormatan sepak bola Indonesia,” tambah Alan.

Melalui surat protes resmi tersebut, Josal FC dan Putrad PB mendesak PSSI Pusat serta Komite Disiplin untuk segera melakukan investigasi independen terhadap kinerja Panitia Pelaksana (Panpel) dan perangkat pertandingan Grup 2 di Palembang. Ketegasan federasi dinilai krusial guna menjaga marwah kompetisi usia dini di tanah air.(**)