MENTAWAI, NUSATIME.ID — Jelang pembukaan cabang olahraga selancar ombak pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026, kontingen Kabupaten Agam dihadapkan pada masalah krusial. Sebanyak tiga atlet selancar ombak asal Kabupaten Agam dilaporkan telah tiba di Kepulauan Mentawai untuk bertanding tanpa didampingi oleh pelatih maupun ofisial.

Kondisi tersebut dikonfirmasi langsung oleh Ketua Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) Sumatera Barat, Harry Algamar. Ia menyayangkan ketiadaan pendamping teknis maupun medis bagi para atlet di lokasi perlombaan.

“Iya, benar. Dari delapan atlet yang didaftarkan awal, hanya tiga orang yang mengonfirmasi kehadiran di Mentawai. Yang sangat disayangkan, ketiga atlet ini akan bertanding tanpa ada pendampingan sama sekali, baik pelatih maupun ofisial,” ujar Harry Algamar saat memberikan keterangan, Jumat (2/10/2026).

Menanggapi hal tersebut, Ketua PSOI Kabupaten Agam, Maharani, menjelaskan bahwa pihaknya sejak awal telah mengusulkan dan mendaftarkan delapan atlet, satu pelatih, serta satu ofisial. Namun, pada pelaksanaannya, hanya tiga atlet yang diakomodasi untuk berangkat ke Mentawai.

Maharani menyebut pemangkasan kuota ini berpotensi merugikan kontingen Agam. Pasalnya, cabor selancar ombak mempertandingkan lima nomor berbeda—seperti shortboard (papan pendek), longboard (papan panjang), hingga nomor aerial—yang membutuhkan spesialisasi serta penguasaan teknik atlet yang berbeda-beda.

“Kami mendaftarkan delapan atlet, satu pelatih, dan satu ofisial. Namun, yang diakomodasi hanya tiga atlet. Padahal ada lima nomor pertandingan dengan spesialisasi skill atlet yang berbeda-beda,” terang Maharani.

Sementara itu, Ketua KONI Agam terpilih, Edi Busti, enggan berkomentar banyak terkait kendala pendaftaran dan pemberangkatan kontingen ini. Ia mengaku tidak dilibatkan dalam proses administrasi maupun pengurusan kontingen Porprov 2026.

“Untuk proses pendaftaran dan pengurusan kontingen, saya memang tidak dilibatkan,” tegas Edi singkat.

Ketiadaan pelatih dan ofisial di lokasi dinilai berpotensi memengaruhi kesiapan teknis, fisik, maupun mental para atlet saat mengarungi arena ombak Mentawai.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya meminta konfirmasi dan klarifikasi dari Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Agam serta Pimpinan Kontingen (Chief de Mission) guna mengetahui penyebab pasti pemangkasan kuota dan ketiadaan pendamping bagi para atlet tersebut.

(**)