PADANG, NUSATIME.ID — Kemacetan panjang akibat tumpukan truk yang mengular di bahu jalan sekitar SPBU Bandar Buat kini mulai terurai. Pemerintah Kota (Pemko) Padang resmi mengalihkan lokasi antrean kendaraan angkutan barang ke Tempat Khusus Parkir (TKP) Truk Koto Lalang, Sabtu (10/10/2026), seraya menerapkan sistem antrean digital berbasis QR Code.
Langkah strategis ini diambil untuk meminimalisasi risiko kecelakaan lalu lintas, mengurai kemacetan, serta menjaga kelancaran aktivitas ekonomi warga di sekitar jalur utama.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, menegaskan bahwa penyediaan fasilitas terpadu ini bertujuan memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi para sopir truk tanpa mengorbankan ketertiban umum.
“Truk bisa mengantre di fasilitas yang kami sediakan secara nyaman. Begitu nomor antreannya dipanggil melalui sistem digital, mereka baru bergerak ke SPBU. Tidak ada lagi penumpukan antrean di jalan raya yang membahayakan pengaguna jalan lain dan mengganggu perekonomian warga,” ujar Fadly saat meninjau TKP Truk Koto Lalang.
Fadly menambahkan, inovasi ini menjadi bagian dari penguatan program Padang Smart City, khususnya pada pilar smart environment, smart government, dan smart society. Ke depan, modul antrean digital ini direncanakan akan direplikasi ke SPBU lain di wilayah Kota Padang.

“Digitalisasi, baik sistem antrean maupun pembayaran bersama Bank Nagari dan OPD terkait, merupakan langkah esensial untuk mewujudkan Padang sebagai kota yang pintar dan sehat,” tegasnya.
Secara teknis, sistem ini memanfaatkan teknologi pemindaian kode QR (QR Code) yang dikembangkan berkolaborasi dengan Bank Nagari. Setiap kode registrasi dirancang khusus dan hanya berlaku satu kali dalam durasi 24 jam untuk mencegah praktik spekulasi maupun penimbunan BBM bersubsidi.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Padang, Yudi Indra Sani, menjelaskan bahwa TKP Truk Koto Lalang memiliki kapasitas statis 80 unit kendaraan. Namun, dengan skema alur bergantian (system flow), fasilitas ini mampu menampung hingga 200 unit truk per hari.
“Kami memindahkan antrean dari jalan raya ke tempat parkir resmi. Ini adalah solusi tata kelola. Meski tidak serta-merta menyelesaikan persoalan kuota atau kelangkaan BBM secara nasional, langkah ini efektif mencegah dampak negatif antrean truk di jalan umum,” jelas Yudi.
Ia menambahkan, integrasi data dengan pihak perbankan menjamin transparansi serta keamanan distribusi antrean di lapangan.
“Setiap pengemudi mendapat kode QR yang berlaku single-use per 24 jam. Sistem yang dikeluarkan langsung oleh Bank Nagari ini tidak dapat diperjualbelikan, sehingga secara otomatis menekan potensi keberadaan pelangsir,” tambahnya.
Skema baru ini mendapat respon positif dari para pengemudi angkutan logistik. Keberadaan kantong parkir khusus membuat proses menunggu gilir pengisian BBM menjadi lebih aman, teratur, dan terhindar dari potensi konflik sosial dengan warga maupun pemilik usaha di tepi jalan.
Yudi (56), pengemudi truk angkutan pupuk subsidi, mengaku sangat terbantu dengan adanya sistem antrean terpadu ini.
“Sejak antrean dipindahkan ke terminal ini, urusan kami jadi lebih tenang dan tidak perlu lagi kucing-kucingan atau parkir berbahaya di tepi jalan. Kami berharap sistem seperti ini dipasang di SPBU lain, supaya semua tertib,” ungkapnya.
Peluncuran serta peninjauan lapangan ini turut dihadiri jajaran pemangku kepentingan terkait, di antaranya unsur Kepolisian, TNI, Bank Nagari, Hiswana Migas, serta pengelola SPBU Bandar Buat.(**)



Tinggalkan Balasan