NUSATIME.ID – Warga Kampung Apa dan Perumahan Luminpark, Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, mulai membersihkan rumah mereka setelah diterjang banjir bandang. Endapan lumpur dan material yang terbawa arus banjir menutupi sejumlah bagian rumah warga.
Pada Minggu (11/10/2026), warga terlihat bergotong royong mengeluarkan lumpur yang masuk ke dalam rumah. Kegiatan pembersihan dilakukan untuk memulihkan kondisi tempat tinggal setelah banjir menerjang kawasan tersebut.
Salah seorang warga, Liza Febria, mengatakan rumahnya telah selesai dibersihkan.
“Kondisi rumah sudah dibersihkan,” kata Liza di Padang, Minggu (11/10/2026).
Warga Terjebak Dua Jam Saat Banjir Datang
Liza menceritakan dirinya sempat terjebak selama sekitar dua jam ketika banjir melanda kawasan tempat tinggalnya. Ia akhirnya berhasil keluar setelah mendapatkan pertolongan dari tim penyelamat bersama warga sekitar.

Selama kejadian, Liza bersama sejumlah warga lainnya mengungsi ke masjid untuk menyelamatkan diri dari luapan air.
“Ibu terjebak dua jam sampai ada tim sekitar yang menyelamatkan kami untuk bisa keluar dari banjir,” ujarnya.
Menurut Liza, banjir datang secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda yang diketahui warga. Kondisi tersebut membuat masyarakat tidak memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan evakuasi.
Ia juga mengungkapkan bahwa sirene sistem peringatan dini banjir yang terpasang di kawasan tersebut tidak berbunyi ketika air mulai menerjang permukiman.
“Banjir itu datang, sirene tidak berbunyi. Jadi, kami fokus ke sirene. Airnya tiba-tiba datang,” ungkapnya.
Liza menilai tidak adanya peringatan membuat banyak warga terjebak ketika banjir datang.
“Tidak ada tanda-tanda banjir, makanya banyak yang terjebak. Yang tinggal di sini terjebak semua,” katanya.
Sistem Peringatan Dini Banjir Jadi Sorotan
Tidak berfungsinya sirene peringatan dini seperti yang dikeluhkan warga menjadi perhatian dalam penanganan dampak banjir di Lubuk Minturun.
Sistem peringatan dini yang dipasang oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) tersebut seharusnya membantu memberikan peringatan kepada masyarakat ketika terjadi peningkatan debit air di bagian hulu sungai.
Keluhan warga ini menjadi bahan evaluasi penting agar perangkat peringatan dini dapat berfungsi optimal dan memberikan waktu yang cukup bagi masyarakat untuk menyelamatkan diri apabila terjadi bencana serupa.
Ratusan Warga Terdampak Banjir di Padang
Di lokasi terdampak, ratusan personel kepolisian turut membantu warga membersihkan rumah dan lingkungan yang dipenuhi lumpur. Upaya tersebut dilakukan untuk mempercepat pemulihan permukiman setelah banjir bandang.
Berdasarkan data terbaru BPBD Kota Padang yang dikutip Metro TV, banjir berdampak terhadap 200 jiwa di Kecamatan Koto Tangah. Sementara itu, di Kecamatan Kuranji, jumlah warga terdampak tercatat sebanyak 245 jiwa.
Warga berharap bantuan kebutuhan dasar segera disalurkan untuk membantu mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah banjir. Bantuan yang diharapkan meliputi makanan, air bersih, pakaian, dan kebutuhan bayi.
Selain bantuan tersebut, masyarakat juga berharap sistem peringatan dini banjir dievaluasi agar kejadian serupa dapat diantisipasi dengan lebih baik.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi banjir, termasuk memastikan perangkat peringatan dini dapat bekerja dan memberikan informasi kepada warga sebelum kondisi membahayakan.



Tinggalkan Balasan