Oleh: Faisal Budiman, S.H.
(Wartawan Utama / Pemegang Number One Press Card)

Kekalahan 1-2 dari Persikad pada laga ke-5 Pegadaian Championship 2026/2027 menjadi alarm keras yang kian menyengat bagi Semen Padang FC. Hasil minor ini tak sekadar menahan laju Kabau Sirah di papan klasemen, tetapi juga membongkar benang kusut yang selama ini tersimpan rapi di balik retorika ambisi manajemen.

Pertanyaan mendasar kini mencuat di tengah publik sepak bola Ranah Minang. Apakah pelatih yang gagal meramu taktik, ataukah kualitas skuat yang sejatinya jauh di bawah ekspektasi?

Jika merunut ke belakang, kegagalan ini sejatinya bukan hal yang mengejutkan. Sejak awal musim, para insan dan pengamat sepak bola di Sumatera Barat sudah menyuarakan kekhawatiran terkait kebijakan transfer pemain. Manajemen terkesan tergiur dengan panggung romantisme nama besar masa lalu. Nama-nama seperti Spasojević, Stefano Lilipaly, hingga Esteban Vizcarra diboyong dengan narasi bahwa mereka adalah “pemain bintang”.

Namun, realitas sepak bola modern sangat pragmatis dan terukur secara fisik. Mengharapkan performa puncak dari deretan pemain yang mayoritas telah berumur di atas 35 tahun adalah bentuk perjudian taktik yang berisiko tinggi. Sepak bola hari ini menuntut intensitas tinggi, press ketat, ketahanan fisik (endurance), serta transisi cepat selama 90 menit.

Kemampuan Spaso, Lilipaly, maupun Vizcarra hari ini jelas tak lagi sama dengan lima atau enam tahun lalu saat mereka berada di masa keemasannya. Manajemen tampak terlalu percaya diri bahwa popularitas dan rekaman rekam jejak masa lalu secara otomatis menjamin kemenangan di lapangan.

Keputusan manajemen yang tergesa-gesa memecat pelatih kepala Nil Maizar usai kekalahan dari PSPS menjadi cermin betapa dangkalnya analisis evaluasi internal. Nil Maizar seolah dijadikan kambing hitam tunggal atas ketidakmampuan tim bersaing, dengan tuduhan gagal “meramu” deretan pemain yang dilabeli bintang tersebut.

Manajemen kemudian menghadirkan Stefano Cugurra (Teco) sebagai juru selamat instan. Namun, debut Teco saat menghadapi Persikad justru menjadi jawaban benderang atas akar persoalan sesungguhnya.

Di 30 menit awal babak pertama, sentuhan taktik Teco memang sempat memberikan warna. Pola permainan mengalir rapi, sesuatu yang sebenarnya juga sering diperlihatkan di era Nil Maizar. Namun, begitu laga memasuki fase krusial dan intensitas lawan meningkat, skema taktik tersebut mendadak menguap. Faktor penurunan kondisi fisik para pemain senior tercermin jelas di lapangan. Ketika stamina terkuras, organisasi permainan pecah, dan pilihan tersisa hanyalah melakukan long ball atau bola-bola lambung dari lini belakang yang mudah dipatahkan lawan.

Bukan berniat mengerdilkan kontribusi para pemain senior yang memiliki rekam jejak mentereng di sepak bola nasional. Pengalaman dan kepemimpinan mereka sangat dibutuhkan di ruang ganti. Namun, menjadikan pemain berusia di atas 35 tahun sebagai tulang punggung skema permainan berdurasi penuh adalah kekeliruan berpikir (fallacy) dalam penyusunan komposisi tim.

Pada titik ini, publik Ranah Minang berhak menuntut transparansi arah kebijakan klub. Pemecatan pelatih demi pelatih tidak akan menyelesaikan masalah selama manajemen enggan berjiwa besar mengakui kesalahan dalam strategi perekrutan (scouting system).

Semen Padang FC butuh evaluasi mendasar dan menyeluruh. Mengembalikan marwah Kabau Sirah tidak bisa dilakukan hanya dengan mengumpulkan nama besar berbiaya tinggi yang masa keemasannya telah lewat, melainkan melalui perencanaan kedalaman skuat yang proporsional antara pengalaman, kecepatan, dan ketahanan fisik muda. Jika pembenahan fundamental ini tidak segera dilakukan, pergantian pelatih sekelas apa pun hanya akan menjadi drama berulang yang merugikan tim dan mengecewakan pendukung setianya. (**)