- Penugasan wasit berlisensi FIFA, Thoriq Munir Alkatiri, dalam laga kasta kedua antara Semen Padang FC kontra PSMS Medan di Stadion Patriot Candrabhaga menuai sorotan publik.
- Sorotan tersebut muncul lantaran Thoriq memiliki rekam jejak mentereng sebagai Wasit Elite AFC yang biasa memimpin kompetisi kasta tertinggi nasional maupun laga internasional.
- Penunjukan Thoriq dinilai sebagai langkah strategis Komite Wasit PT LIB untuk meminimalisasi kontroversi serta menjaga tensi dan integritas duel berisiko tinggi bertajuk El Clásico Sumatra.
Oleh: Faisal Budiman
Sabtu (17/10/2026), Stadion Patriot Candrabhaga Bekasi menjadi saksi bentrok dua kekuatan klasik Pulau Sumatra: Semen Padang FC vs PSMS Medan dalam lanjutan Pegadaian Championship. Namun, perhatian publik sepak bola—khususnya para pencinta sepak bola Ranah Minang—tidak hanya tertuju pada bentrokan strategi di atas rumput hijau, melainkan juga pada sosok peniup peluit di tengah lapangan: Thoriq Munir Alkatiri.
Kehadiran korps baju hitam asal Jawa Barat ini mendadak memantik tanda tanya besar. Mengapa seorang pengadil lapangan berlabel FIFA dan Wasit Elite AFC yang biasa memimpin derby panas kasta tertinggi hingga laga antarnegara—m tiba-tiba bertugas di kasta kedua?
Apakah ini bentuk “turun status” bagi seorang Thoriq, ataukah ada pesan khusus yang dititipkan Komite Wasit PT Liga Indonesia Baru (LIB) dalam laga bertajuk El Clásico Sumatra ini?
Untuk memahami hadirnya Thoriq di laga ini, kita harus melihat rekam jejaknya. Thoriq Alkatiri bukanlah nama sembarangan di sepak bola nasional maupun Asia.

Memegang Lisensi FIFA sejak usia 25 tahun (2014) serta masuk dalam jajaran Wasit Elite AFC. Terpilih sebagai Wasit Terbaik Indonesia Super League (ISL) 2014, Piala Jenderal Sudirman 2015, hingga Liga 1.
Malang melintang memimpin laga AFC Champions League, Kualifikasi Piala Dunia, hingga turnamen kelompok umur FIFA.
Secara reputasi, Thoriq berada di strata tertinggi pengadil lapangan Indonesia. Maka wajar jika publik bertanya: mengapa dia “diparkir” di Liga 2?
Dalam tradisi tata kelola perwasitan modern, penugasan wasit berlisensi FIFA ke kompetisi kasta kedua bukanlah fenomena degradasi personal. Ada beberapa perspektif jurnalisme olahraga yang perlu kita bedah secara obyektif.
Pertemuan Kabau Sirah kontra Ayam Kinantan selalu menjanjikan tensi tinggi, fisik keras, dan tekanan psikologis hebat. Dalam laga berisiko tinggi seperti ini, Komite Wasit PT LIB kerap menerjunkan wasit senior untuk meminimalisir keputusan kontroversial yang bisa memicu kericuhan atau merusak integritas kompetisi.
Ketegasan Thoriq dan wibawa lisensi FIFA yang melekat pada dirinya terbukti kerap meredam protes berlebihan dari para pemain di lapangan. Komite Wasit membutuhkan figur pengadil yang disegani agar laga tetap mengalir bersih dan menjunjung tinggi fair play. Mengirim wasit papan atas ke kasta kedua juga berfungsi sebagai tolok ukur (benchmark) standar kepemimpinan bagi perangkat pertandingan lainnya di Liga 2.
Tentu saja, spekulasi publik apakah Thoriq memang sedang mendapat rotasi rutin, penugasan khusus, ataukah respon atas evaluasi tertentu jawaban pastinya tetap berada di meja Komite Wasit PT LIB.
Namun satu hal yang pasti: hadirnya Thoriq Munir Alkatiri di Stadion Patriot Bekasi menjadi jaminan bahwa duel panas Semen Padang FC vs PSMS Medan dipimpin oleh salah satu pengadil terbaik yang dimiliki negeri ini. Bagi publik sepak bola Ranah Minang, harapan utamanya sangat sederhana: siapa pun pengadilnya, kepemimpinan yang adil, tegas, dan tak berpihak adalah harga mati demi kehormatan sepak bola Indonesia. (**)



Tinggalkan Balasan