Rangkuman Utama
  • Pembangunan Jembatan Bancah Galinggang dan Jembatan Suak di Ruas Sasak–Maligi mencatatkan deviasi positif dengan progres fisik mencapai 74,19 persen pada minggu ke-12, melampaui target rencana 70 persen.
  • Proyek infrastruktur bernilai Rp19,44 miliar di bawah naungan Dinas BMCKTR Sumbar ini terus dikebut oleh PT Kamala Unida Galang guna memastikan penyelesaian tepat waktu dalam masa kontrak 150 hari kalender.
  • Meski menyambut baik pembukaan akses transportasi pesisir, warga mendesak pemerintah agar segera menganggarkan perbaikan satu jembatan lain di ruas tersebut yang kondisinya miring dan membahayakan keselamatan.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PASAMAN BARAT, NUSATIME.ID — Upaya membuka keterisolasian wilayah serta memperlancar arus transportasi masyarakat di pesisir Pasaman Barat terus dipacu. Pembangunan dua jembatan pada Ruas Jalan Provinsi Sasak – Maligi (P.033.2), yakni Jembatan Bancah Galinggang dan Jembatan Suak, kini mencatatkan deviasi positif pada minggu ke-12 pelaksanaan.

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan hingga Senin (19/10/2026), progres fisik pekerjaan yang dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Kamala Unida Galang telah mencapai 74,19 persen. Capaian tersebut melampaui target rencana mingguan yang ditetapkan sebesar 70 persen.

Pelaksana Lapangan PT Kamala Unida Galang, Rinal Fatria, S.T., menjelaskan bahwa pengerjaan di dua titik jembatan rangka baja tersebut terus dikebut guna mengejar target penyelesaian sebelum masa kontrak berakhir.

Pada titik Jembatan Bancah Galinggang, pengecoran struktur abutment (ABT) di kedua sisi jembatan telah rampung. Saat ini, pekerja fokus memancang kubus/balok beton sebagai penahan tanah timbunan (retaining wall).

“Sesuai kontrak, total dialokasikan sebanyak 800 unit balok beton penahan tanah untuk kedua titik. Khusus di Jembatan Bancah Galinggang, per 19 Oktober 2026 sudah terpasang 160 unit di sisi kanan, sementara sisi lainnya sedang dalam tahap pengerjaan,” ujar Rinal saat ditemui di lokasi proyek.

Sementara itu, pada titik Jembatan Suak, proses pengerjaan difokuskan pada pemancangan tiang fondasi ABT. Dari total 64 tiang pancang yang direncanakan untuk kedua sisi, sebanyak 24 tiang telah tertanam. Rangka baja jembatan juga dilaporkan sudah berada di lokasi dan siap dirakit (erection).

“Seluruh material mayor untuk kedua jembatan sudah berada di lokasi. Kami optimistis proyek ini dapat selesai tepat waktu sebelum masa kerja berakhir,” tambah Rinal.

Proyek di bawah naungan Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumatera Barat ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp19.441.575.174 dengan nomor kontrak ⁠630/01/KTR-JBT.P.033.2-BM/VII/2026⁠ tertanggal 29 Juli 2026. Masa pelaksanaan ditetapkan selama 150 hari kalender dengan pengawasan dari Konsultan Supervisi PT Ganesa Pratama Consultan.

Adapun rincian teknis kedua jembatan meliputi, Jembatan Bancah Galinggang, Tipe Bailey / Rangka Baja, panjang bentang 51 meter, lebar lantai jembatan 4,10 meter, dan lebar badan jalan 4,20 meter. Jembatan Suak, Tipe Rangka Baja, panjang bentang 42 meter, dan lebar jembatan 6 meter.

Pembangunan akses jalan dan jembatan penghubung Sasak, Maligi, hingga Sikilang ini disambut positif oleh warga setempat. Akses ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat pesisir yang selama ini terkendala sarana transportasi.

Namun, di balik apresiasi tersebut, warga menyuarakan kekhawatiran terkait kondisi infrastruktur penunjang lainnya di jalur yang sama.

Andi, salah seorang warga Sasak, menyatakan bahwa masih ada titik rawan yang membutuhkan penanganan segera oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat maupun Pemkab Pasaman Barat.

“Kami sangat berterima kasih kepada pemerintah dan kontraktor. Jalan dan dua jembatan ini sangat membantu mobilitas masyarakat. Namun, kami berharap pemerintah tidak melupakan satu unit jembatan lagi di ruas Sasak–Maligi ini yang kondisinya sudah miring,” ungkap Andi.

Menurut Andi, jembatan yang miring tersebut sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan, terutama kendaraan bermotor dan angkutan barang yang melintas setiap hari.

“Kami meminta agar jembatan miring tersebut dapat dianggarkan dan diperbaiki pada tahun anggaran berikutnya. Jangan tunggu ada korban jiwa baru diperbaiki,” tegasnya.

Pembangunan jaringan jalan dan jembatan di kawasan pesisir Pasaman Barat ini diharapkan tidak hanya memperlancar konektivitas antarkampung, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan yang selama ini terisolasi. (BUYUNG)