PADANG, NUSATIME.ID — Sebuah perjalanan panjang di dunia akademik, organisasi dan pengabdian masyarakat mengantarkan Prof. Dr. Drs. H. Yadiman, S.H., M.H., Ketua Umum Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD GEMAS) Indonesia, menuju salah satu puncak perjalanan intelektualnya.

Prof. Yadiman dijadwalkan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bodhisastra University Florida, United States of America, pada 21 September 2026 di Grand Istana Rama Hotel, Bali.

Namun, pengukuhan itu bukan sekadar seremoni akademik atau penambahan gelar di depan nama. Di baliknya terdapat tanggung jawab yang jauh lebih besar: membawa ilmu pengetahuan keluar dari ruang akademik dan menjadikannya kekuatan untuk menjawab persoalan bangsa.

Pesan itu semakin kuat karena dalam momentum pengukuhannya Prof. Yadiman memilih isu yang sangat strategis bagi Indonesia sebagai tema orasi ilmiah, yakni “The Existence of the Indonesia MBG Program: Opportunities and Challenges”, atau eksistensi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), peluang dan tantangannya.

MBG Bukan Sekadar Sepiring Makanan

Dalam gagasan ilmiahnya, Prof. Yadiman menempatkan Program Makan Bergizi Gratis bukan semata-mata sebagai program pembagian makanan.

MBG adalah investasi jangka panjang pembangunan manusia IndonesiaZ Makanan bergizi yang diberikan kepada anak-anak hari ini merupakan bagian dari investasi untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, produktif dan memiliki daya saing pada masa mendatang.

Lebih jauh, MBG juga mempunyai efek ekonomi yang besar karena melibatkan petani, peternak, nelayan, UMKM, pemasok bahan pangan, tenaga kerja serta berbagai mata rantai ekonomi di daerah.

Dengan tata kelola yang baik, keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat berkembang bukan hanya sebagai pusat produksi makanan bergizi, tetapi juga menjadi simpul pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Namun, peluang besar tersebut juga menghadirkan tantangan besar. Ketepatan sasaran, kualitas dan keamanan pangan, distribusi, pengelolaan anggaran, pengawasan serta akuntabilitas menjadi bagian penting yang menentukan keberhasilan program.

Karena itu, MBG membutuhkan tata kelola yang transparan, efektif, profesional dan akuntabel. Keberhasilannya tidak cukup hanya dihitung dari berapa juta porsi makanan yang dibagikan, tetapi harus dilihat dari seberapa besar program tersebut mampu memperbaiki gizi, kesehatan dan kualitas generasi Indonesia.

Dari Ruang Kuliah ke Gerakan Sosial

Perjalanan Prof. Yadiman menunjukkan bahwa dunia akademik dan pengabdian masyarakat tidak harus berjalan sendiri-sendiri.

Pria kelahiran Cilacap, 3 September 1956 tersebut menempuh pendidikan tinggi di STIA LAN RI, STH Bandung, Pascasarjana Universitas Padjadjaran hingga pendidikan doktoral di Universitas Padjadjaran.

Rekam jejak pengabdiannya juga melintasi berbagai bidang. Ia pernah menjadi Rektor Universitas Purwakarta periode 2012–2016, mengajar di berbagai perguruan tinggi serta aktif dalam berbagai organisasi.

Kini, sebagai Ketua Umum HMD GEMAS Indonesia, Prof. Yadiman berada di tengah gerakan yang bersentuhan langsung dengan para mitra dapur dan pelaksanaan Program MBG.

Di titik inilah gelar Guru Besar memperoleh makna yang lebih luas. Ilmu tidak cukup hanya ditulis. Ilmu harus bekerja.

Ia harus hadir di tengah masyarakat, membaca persoalan dan menawarkan jalan keluar.

Marlis: Kebanggaan Besar Keluarga HMD GEMAS

Pengukuhan tersebut mendapat apresiasi dari Ketua DPW HMD GEMAS Sumatera Barat, Drs. H. Marlis, MM, C.Med.

Marlis menilai pencapaian Prof. Yadiman bukan hanya kebanggaan pribadi dan keluarga, tetapi juga menjadi kebanggaan seluruh keluarga besar HMD GEMAS Indonesia.

“Atas nama pribadi dan keluarga besar DPW HMD GEMAS Sumatera Barat, kami menyampaikan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Yadiman atas pengukuhan sebagai Guru Besar. Ini merupakan pencapaian akademik yang membanggakan sekaligus bukti konsistensi beliau dalam dunia pendidikan, organisasi dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Marlis.

Menurut Marlis, keputusan Prof. Yadiman mengangkat Program MBG sebagai tema orasi ilmiah juga memiliki makna penting.

Sebab MBG bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan makan, tetapi merupakan salah satu instrumen strategis untuk mempersiapkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Ketika seorang Guru Besar mengangkat MBG ke dalam forum akademik, kita sedang menempatkan persoalan gizi generasi bangsa sebagai persoalan intelektual sekaligus persoalan masa depan Indonesia,” tegas Marlis.

Ia berharap pengukuhan tersebut semakin memperkuat kepemimpinan Prof. Yadiman dalam membawa HMD GEMAS menjadi organisasi yang profesional, independen dan konstruktif dalam mendukung keberhasilan Program MBG.

HMD GEMAS, menurut Marlis, harus mampu menjadi jembatan komunikasi antara mitra di lapangan dengan pemerintah, sekaligus ikut mendorong kualitas, keamanan pangan, profesionalisme dan tata kelola program.

Gelar Profesor adalah Awal Tanggung Jawab yang Lebih Besar

Bagi Marlis, gelar Guru Besar bukanlah titik akhir perjalanan Prof. Yadiman. Justru sejak pengukuhan itu, tanggung jawab intelektual dan sosial menjadi semakin besar.

“Gelar Guru Besar bukanlah akhir perjalanan, tetapi awal dari tanggung jawab intelektual dan pengabdian yang lebih besar. Kami bangga Ketua Umum HMD GEMAS Indonesia berdiri di panggung akademik membawa gagasan tentang masa depan gizi dan Generasi Emas Indonesia,” katanya.

Pengukuhan Prof. Yadiman akhirnya menjadi pertemuan tiga kekuatan sekaligus: ilmu, kepemimpinan dan pengabdian.

Dari ruang kuliah menuju kehidupan masyarakat. Dari pemikiran akademik menuju persoalan nyata di dapur-dapur MBG. Dan dari perjalanan panjang seorang akademisi menuju tanggung jawab baru untuk ikut mempersiapkan masa depan Indonesia.

Sebab membangun Generasi Emas bukan pekerjaan sehari, bukan pula sekadar slogan. Ia membutuhkan gizi yang baik, ilmu pengetahuan, tata kelola yang benar, integritas serta keberanian untuk mengabdi.

Marlis pun menyampaikan pesan khusus kepada Ketua Umum HMD GEMAS Indonesia tersebut.

“Selamat dan sukses Prof. Yadiman. Teruslah menjadi mata air ilmu, inspirasi dan pengabdian. Dari HMD GEMAS untuk Indonesia, mari kita kawal Program MBG dan bersama-sama membangun Generasi Emas Indonesia.”

Dan mungkin di situlah makna terbesar sebuah gelar profesor, bukan sekadar seberapa tinggi ilmu yang dimiliki, tetapi seberapa jauh ilmu itu mampu memberi manfaat bagi manusia, bangsa dan generasi yang akan datang. ( **)