SOLOK, NUSATIME.ID — Bau tanah basah dan aroma kayu lapuk menyeruak tajam di udara pagi Arosuka. Di area terdampak bencana banjir bandang atau masyarakat setempat menyebutnya galodo, derum mesin ekskavator yang baru tiba pada Kamis (24/9/2026) memecah keheningan lereng gunung. Suara itu menjadi simbol harapan baru bagi ratusan petugas yang kembali berpacu dengan waktu.
Fokus pencarian kini tertuju pada satu nama, Agusra (59). Pria itu menjadi korban terakhir yang keberadaannya masih misterius sejak air bah menerjang pemukiman dan kawasan sekitar Kompleks Kantor Bupati Solok. Sementara itu, duka mendalam telah menyelimuti keluarga Daffi Arrahman (21), yang jasadnya berhasil dievakuasi lebih awal oleh tim SAR.
Sehari sebelumnya, Rabu (23/9/2026), sebanyak 639 personel gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, hingga relawan telah menguras tenaga menyisir alur air sepanjang 11 kilometer. Dibagi ke dalam empat sektor penyisiran, mereka membongkar tiap jengkal tanah yang mencurigakan. Namun, hingga senja jatuh memaksa operasi dihentikan, keberadaan Agusra belum juga terkuak.
Medan pencarian bukanlah lapangan terbuka yang mudah ditaklukkan. Hempasan galodo meninggalkan jejak kehancuran yang teramat masif.
“Terdapat banyak obstacle di area pencarian. Tim di lapangan harus menggali lebih dalam di beberapa titik yang dicurigai, namun tumpukan kayu-kayu besar dan batu menjadi penghalang utama,” ungkap Hendri, Kasiops Basarnas Padang.

Ratusan gelondongan kayu berukuran besar yang terbawa dari hulu menumpuk campur aduk dengan bebatuan cadas dan endapan lumpur pekat. Di beberapa titik, ketebalan lumpur bahkan menenggelamkan kaki para petugas, membuat setiap langkah kaki terasa begitu berat dan berisiko.
Kawasan Kompleks Kantor Bupati Solok yang biasanya riuh oleh aktivitas pelayanan publik, kini berubah menjadi saksi bisu kedahsyatan air bah. Material lumpur menerobos masuk hingga ke halaman dan bangunan, menyisakan pemandangan yang memilukan.
Di sinilah pertaruhan tim gabungan berlangsung hari ini. Dengan masuknya satu unit alat berat ekskavator pada Kamis pagi, tim berharap benteng-benteng kayu tebal dan batu yang mengubur area pencarian dapat segera diurai.
Bagi 639 personel yang bertugas, ini bukan sekadar tugas evakuasi rutin. Ini adalah ikhtiar kemanusiaan untuk memberikan kepastian bagi keluarga yang setia menanti di tepi areal bencana, menaruh asa agar Agusra dapat segera ditemukan. (**)



Tinggalkan Balasan