Oleh: Faisal Budiman, S.H.
(Wartawan Utama / Pemegang Number One Press Card)
Keputusan mencoret pemain di awal musim memang bukan hal baru dalam sepak bola, tetapi cara Semen Padang FC mengeksekusinya kali ini adalah sebuah tragedi. Kendati belum ada maklumat resmi dari jajaran direksi, kalkulasi regulasi Pegadaian Championship telah mengetuk palu kepastian, Kabau Sirah wajib menumbalkan satu legiun asingnya. Kedatangan amunisi anyar asal Brasil eks PSM Makassar, Savio Roberto, otomatis membuat kuota pemain asing melonjak jadi empat orang, melangkahi batas maksimal tiga pemain yang dipatok regulasi.
Secara kalkulasi taktis, masuknya Savio di sektor tengah mengarah kuat pada satu nama yang kian terpojok di pintu keluar, Lazar Zljic, yang menghuni posisi identik.
Namun, melampaui bongkar-pasang taktik dan siapa yang akhirnya tereliminasi, drama pencoretan pemain di awal musim ini resmi mengukir preseden rekrut-depak paling ganjil sepanjang sejarah klub. Belum pernah dalam rekam jejak Kabau Sirah, seorang pemain asing yang didatangkan, digaji, dan dibina selama hampir tiga bulan, mendadak divonis tidak layak hanya berbekal 45 menit penampilan di satu laga resmi. Tradisi historis Semen Padang FC yang dikenal terukur, dengan merombak skuad pada jendela transfer putaran kedua, runtuh seketika oleh keputusan impulsif ini.
Langkah serba instan ini melempar tamparan keras bagi publik sepak bola Ranah Minang. Pertanyaan mendasarnya amat menohok. Bagaimana mungkin kualitas seorang pemain asing yang dikawal berbulan-bulan mendadak dinilai gagal total hanya dari performa satu babak?

Masa pra-kompetisi bukanlah waktu yang singkat. Selama hampir 90 hari, tim pelatih dan manajemen memegang akses penuh untuk membedah kualitas teknis, ketahanan fisik, adaptasi taktis, hingga mentalitas sang pemain, baik dalam sesi latihan harian maupun serangkaian uji coba. Jika performa Zljic sejak awal tidak memenuhi standar atau tidak presisi dengan skema tim, pembatalan kontrak seharusnya dieksekusi sebelum tinta tanda tangan mengering, atau paling tidak sebelum pendaftaran resmi kompetisi dikunci.
Kekacauan ini secara telanjang memperlihatkan bobroknya sistem pemandu bakat teknis (technical scouting) di internal manajemen. Proses rekrutmen terkesan prematur dan asal comot, sekadar menampung sodoran agen tanpa adanya analisis data berbasis kinerja (performance-based data), pemantauan lapangan yang kredibel, serta pemetaan kebutuhan taktis yang matang.
Ketika evaluasi mendadak baru digelar saat peluit pekan pertama kompetisi ditiup, yang tampak ke permukaan bukan lagi ketegasan, melainkan kegagapan manajemen dalam merencanakan skuad profesional.
Keputusan amatir ini jelas berbuntut panjang. Pemutusan kontrak sepihak di awal musim memaksa klub menanggung beban kewajiban finansial serta kompensasi pemutusan kerja sama sesuai regulasi FIFA. Kerugian materiil yang menguap sia-sia ini adalah buah langsung dari kecerobohan kalkulasi di meja direksi.
Lebih tragis dari sekadar kerugian finansial, insiden ini merusak reputasi tata kelola (governance) klub di level nasional. Mengontrak pemain tanpa pemahaman komprehensif, lalu membuangnya setelah setengah babak, mempertontonkan tata kelola klub yang berjalan tanpa arah dan minus transparansi profesionalisme.
Semen Padang FC dipangku oleh sejarah besar dan tradisi panjang yang dihormati. Profesionalisme tak boleh hanya dituntut dari keringat pemain di atas rumput hijau, tetapi juga dari rasionalitas jajaran manajemen dalam mengambil keputusan strategis. Jika fungsi pemandu bakat dan rekrutmen terus dikelola secara amatiran, reputasi sang Kabau Sirahakan terus tergadaikan di panggung sepak bola tanah air. (**)



Tinggalkan Balasan