Rangkuman Utama
  • Pemerintah Kota Padang menyiapkan skema integrasi rantai pasok pertanian lokal dengan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna memberikan jaminan pasar berkelanjutan bagi KWT dan petani milenial terdampak bencana.
  • Dapur MBG difungsikan sebagai penyerap langsung (offtaker) untuk memangkas rantai distribusi komoditas pangan, sekaligus mentransformasikan skema bantuan darurat menjadi pemberdayaan ekonomi mandiri.
  • Pakar dan akademisi menilai langkah integrasi ini strategis untuk menjaga stabilitas pasokan pangan daerah serta mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat berbasis komunitas pascabencana.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PADANG, NUSATIME.ID — Pemerintah Kota Padang menyiapkan skema integrasi rantai pasok pertanian lokal ke dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dirancang untuk memberikan jaminan pasar berkelanjutan bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) dan petani milenial yang terdampak bencana banjir.

Model kemitraan tersebut difokuskan pada pemulihan ekonomi jangka panjang pascabencana, mempertemukan puluhan pengurus KWT, petani milenial, dan koordinator pengelola dapur MBG wilayah Padang.

Kepala Bidang Konsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan Kota Padang, Dessy, menyampaikan bahwa intervensi pemerintah daerah kini ditransformasikan dari skema bantuan darurat menuju pemberdayaan ekonomi mandiri.

Sebelumnya, sebanyak 41 KWT terdampak banjir November 2025 telah menerima bantuan modal melalui dana Transfer ke Daerah (TKD) 2025. Namun, keterhubungan dengan pasar dinilai menjadi kunci utama agar usaha kelompok tersebut dapat bertahan.

“Tahun lalu, kami sudah menyalurkan bantuan melalui dana TKD kepada 41 KWT yang terdampak banjir di Kota Padang. Sekarang, kami ingin mendorong mereka agar bisa berkembang lebih jauh dengan menggandeng petani milenial dan menjalin kerja sama dengan dapur MBG,” ujar Dessy di Padang, Jumat (16/10/2026).

Dessy menambahkan, keberadaan dapur MBG sebagai penampung (offtaker) langsung akan memangkas rantai distribusi hasil panen, sehingga nilai komersial produk pertanian lokal dapat terserap maksimal.

“Harapannya, KWT dan petani milenial ini tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga bisa terus tumbuh, berinovasi, dan mengembangkan usahanya. Dengan adanya kerja sama dengan dapur MBG, hasil pertanian mereka bisa terserap dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” kata Dessy.

Pakar pertanian Prof. Musliar Kasim menilai, keterlibatan KWT dan petani milenial merupakan aset penting dalam menjaga stabilitas pasokan pangan daerah. Menurutnya, kepastian sinergi dan pendampingan teknis akan mengubah potensi lahan lokal menjadi sumber penghasilan yang stabil bagi korban bencana.

“KWT dan petani milenial memiliki potensi besar untuk mengembangkan pertanian lokal. Dengan dukungan dan kerja sama yang tepat, potensi ini dapat menjadi sumber penghasilan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana,” jelas Prof. Musliar Kasim.

Sementara itu, akademisi Dr. Afrizal menyoroti dampak efisiensi pemasaran dari skema integrasi ini. Kemitraan langsung antara kelompok tani dan pengelola program gizi dinilai mampu menciptakan ekosistem ekonomi inklusif di tingkat tapak.

“Integrasi pertanian lokal dengan program MBG membuka peluang bagi KWT dan petani milenial untuk memperluas pemasaran hasil produksi. Kerja sama ini diharapkan dapat membantu hasil pertanian lokal terserap dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tuturnya.

Melalui kemitraan strategis ini, komoditas pangan segar yang dihasilkan masyarakat terdampak bencana tidak hanya menyokong kebutuhan gizi anak sekolah di Kota Padang, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi berbasis komunitas.(**)