MENTAWAI, NUSATIME.ID — Sebanyak 37 siswa SMAN 1 Pagai Utara Selatan (PUS) berjuang menyelamatkan diri di perairan Selat Sikakap, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, setelah sampan cadik yang mereka tumpangi terbalik pada Selasa (13/10/2026).

Beruntung, aksi tanggap nelayan lokal yang melintas di sekitar lokasi kejadian berhasil mengevakuasi seluruh siswa sehingga tragedi mematikan dapat terhindarkan.

operational Tim SAR mengonfirmasi bahwa seluruh korban berhasil diselamatkan dan tidak ada laporan korban jiwa maupun hilang dalam insiden tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa naas tersebut bermula saat puluhan siswa SMAN 1 PUS berangkat menyeberangi Selat Sikakap menggunakan sampan cadik—moda transportasi perairan utama yang kerap digunakan warga setempat.

Di tengah perjalanan, bagian cadik sebelah kanan kapal mendadak patah. Kondisi ini membuat keseimbangan perahu goyah hingga air laut dengan cepat masuk dan menenggelamkan badan sampan.

Para siswa yang berada di dalam perahu mendadak panik dan berusaha mempertahankan diri di atas perairan sebelum bantuan datang.

Di saat kondisi kritis, keberadaan nelayan lokal yang berada di tak jauh dari titik lokasi menjadi penentu keselamatan para korban. Merekam situasi darurat tersebut, para nelayan langsung mengarahkan kapal mereka untuk mendekat dan melakukan evakuasi satu per satu.

“Aksi cepat para nelayan lokal di perairan Selat Sikakap sangat krusial dalam mengevakuasi seluruh penumpang secara cepat dan aman,” ujar perwakilan tim evakuasi di lapangan.

Seluruh 37 siswa berhasil dipindahkan ke perahu nelayan dalam kondisi selamat, meski beberapa di antaranya mengalami trauma akibat kepanikan saat tenggelam.

Setibanya di darat, para siswa langsung mendapatkan penanganan awal dan pemeriksaan kondisi fisik oleh pihak terkait bersama pihak sekolah sebelum dipulangkan ke rumah masing-masing.

Insiden ini kembali menyoroti pentingnya kelayakan armada transportasi penyeberangan serta penyediaan alat keselamatan dasar, seperti pelampung (life jacket), bagi para pelajar yang bergantung pada jalur laut untuk mengakses pendidikan di wilayah kepulauan. (**)