JAKARTA, NUSATIME.ID— Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) menyoroti pentingnya keberlanjutan proses pembinaan atlet nasional jangka panjang ketimbang sekadar mengandalkan pemberian bonus di akhir kejuaraan. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Kebangsaan FWK yang berlangsung di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Mantan Wakil Ketua Dewan Pers, Hendry Ch Bangun, menilai perhatian terhadap proses pembinaan jauh lebih krusial untuk melahirkan prestasi yang konsisten di tingkat internasional, seperti Asian Games dan Olimpiade.

“Bonus bagi peraih medali memang penting untuk menyemangati atlet, namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana proses pembinaan atlet berprestasi dirancang dalam jangka panjang,” ujar Hendry, yang juga mantan wartawan senior olahraga Harian Kompas.

Hendry menambahkan, jika anggaran pemerintah terbatas, Presiden Prabowo Subianto perlu mendorong kolaborasi lintas sektor yang melibatkan masyarakat dan dunia usaha. Pola kemitraan ini dinilai efektif untuk menjamin kesinambungan porsi latihan dan kebutuhan atlet.

Ia mencontohkan langkah Ketua Umum Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI), Luhut Binsar Pandjaitan, yang menerapkan Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) jangka panjang melalui skema pendanaan multiyears. Model pembinaan berkelanjutan semacam ini dianggap mampu mencetak atlet yang siap bersaing di level dunia.

Selain membahas isu pembinaan, para peserta diskusi, yang didominasi wartawan senior olahraga, juga menyoroti evaluasi capaian kontingen Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Hingga hari kelima pelaksanaan, perolehan medali emas Indonesia tercatat masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Wartawan senior kantor berita Antara, AR Loebis, bersama sejawat lainnya seperti Budi Nugraha, Sigit Setiyono, Sarwani, Herwan Pebriansyah, dan Herry Sinamarata, turut menyoroti kendala persiapan serta efektivitas tata kelola anggaran Pelatnas.

Mantan wartawan senior Kompas, Jimmy S. Harianto, mengingatkan kembali filosofi para tokoh olahraga nasional terdahulu, seperti MF Siregar dan Bob Hasan, yang menekankan bahwa prestasi olahraga tidak dapat dibentuk secara instan jelang kejuaraan semata.

“Diskusi ini merupakan bentuk keprihatinan sekaligus masukan konstruktif bagi perkembangan olahraga di Tanah Air. Prestasi yang solid hanya bisa lahir dari proses pembinaan yang matang dan konsisten,” pungkas Jimmy.

Meski menyampaikan sejumlah catatan kritis terhadap sistem pembinaan, FWK tetap menyampaikan dukungan moral dan doa bagi seluruh atlet Indonesia yang sedang berjuang di Asian Games 2026 agar mampu meraih hasil maksimal dan membawa pulang medali emas bagi Indonesia. (**)