PALEMBANG, NUSATIME.ID— Perjalanan Josal FC Piaman di Piala Soeratin U-17 Nasional Zona 2 Palembang berujung sorotan tajam. Kendati mengukir rekor tak terkalahkan dan tanpa kebobolan di fase grup, wakil Sumatra Barat tersebut dipastikan gagal melangkah ke babak selanjutnya menyusul serangkaian keputusan dan dinamika laga yang memicu dugaan kecurangan.
Secara statistik, performa anak-anak asuh Josal FC terbilang impresif. Dari tiga laga yang dijalani, mereka menggilas Putrad PB FC (Lampung) 7-0, bermain imbang 0-0 melawan Lahat FC, dan menundukkan Seluma FC 7-0. Total 14 gol dilesakkan tanpa sekalipun gawang mereka bergetar.
Namun, hasil manis di lapangan tertutupi oleh sejumlah kejanggalan yang dinilai mencederai asas sportivitas.
Presiden Josal FC Piaman, H. Arisal Aziz, mengungkapkan kekecewaan mendalam atas kepemimpinan perangkat pertandingan serta tata kelola panitia pelaksana. Kejanggalan pertama, menurut Arisal, terjadi saat laga kontra Lahat FC. Pihaknya menyayangkan kepemimpinan wasit yang mengabaikan tiga pelanggaran keras di dalam kotak penalti lawan.
Sorotan kian tajam mengarah pada jadwal laga pamungkas penentuan grup. Laga pamungkas yang idealnya digelar serentak demi menjaga integritas kompetisi, justru dimainkan terpisah dengan jeda hingga enam jam.

Josal FC bertanding lebih awal melawan Seluma FC pada pukul 08.00 WIB dan mengunci kemenangan 7-0. Sementara itu, laga antara Lahat FC kontra Putrad PB FC baru bergulir sore hari pukul 14.00 WIB.
Pertandingan antara Lahat FC dan Putrad PB FC inilah yang kemudian memantik kontroversi besar. Pada menit ke-30 babak pertama, wasit sempat menganugerahkan kartu merah kepada pemain Putrad PB FC. Keputusan tersebut direspons aksi mogok bertanding oleh kubu Lampung hingga laga terhenti cukup lama.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi pertandingan, mantan Wakil Gubernur Sumatra Selatan, Cik Ujang, sempat turun ke lapangan guna mediasi dan meminta tim Lampung melanjutkan laga. Usai dinamika tersebut, wasit membatalkan kartu merah yang sempat dikeluarkan.
Pada babak berikutnya, drama berlanjut setelah wasit mengganjar tiga hadiah penalti untuk Lahat FC serta kembali mengeluarkan satu kartu merah bagi pemain Lampung. Laga tersebut akhirnya usai dengan skor mencolok 10-1 untuk kemenangan Lahat FC—skor yang cukup untuk menggeser posisi Josal FC.
Beredarnya kabar mengenai relasi kepemilikan Lahat FC dengan figur pejabat daerah Sumsel kian memperderas spekulasi publik terkait dugaan intervensi guna meloloskan tim tuan rumah.
Arisal Aziz menegaskan, praktik-praktik semacam ini menjadi preseden buruk bagi masa depan sepak bola nasional, terutama di tingkat pembinaan usia muda.
“Soeratin adalah pembinaan usia dini, bukan ajang kongkalikong. Jika jadwal tidak serentak, kartu merah bisa dicabut karena mogok main, dan penalti diobral tiga kali dalam satu laga, ini pembinaan yang dibunuh,” tegas Arisal.
Atas rentetan peristiwa tersebut, manajemen Josal FC Piaman mendesak PSSI Pusat turun tangan melakukan investigasi menyeluruh terhadap kinerja panitia pelaksana serta perangkat pertandingan Piala Soeratin U-17 Zona 2 Palembang.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya meminta konfirmasi resmi dari PSSI, Panitia Pelaksana Piala Soeratin U-17 Zona 2, perangkat pertandingan, serta pihak Lahat FC terkait tuduhan dan dugaan kejanggalan tersebut. (**)



Tinggalkan Balasan