- Warga RW 15 Kelurahan Lubuk Buaya, Kota Padang, menggelar tradisi malamang bersama guna menyambut peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.
- Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, mengapresiasi inisiatif tersebut sebagai sarana efektif untuk mempererat silaturahmi dan memupuk semangat gotong royong warga.
- Peringatan kemerdekaan diharapkan menjadi momentum pelestarian budaya lokal Minangkabau secara berkelanjutan dengan melibatkan generasi muda secara aktif.
PADANG, NUSATIME— Aroma beras ketan dan santan gurih yang terbakar dalam selongsong bambu menyeruak di pemukiman warga RW 15, Kelurahan Lubuk Buaya, Kota Padang, Minggu (16/8/2026).
Bukan sekadar menyiapkan hidangan lezat, kepulan asap tipis dari tungku kayu tersebut menandai gelaran tradisi malamang, sebuah perayaan kebersamaan warga dalam menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Suasana peringatan kemerdekaan tahun ini terasa begitu hangat dan mengakar. Hadir di tengah-tengah warga, Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, ikut membaur dan merasakan langsung kehangatan tradisi khas Minangkabau tersebut.
Mengusung tema “Mencintai Tradisi, Melestarikan Budaya, Bersatu dalam Kebersamaan dan Silaturahmi,” kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kemerdekaan tak melulu tentang seremoni formal, melainkan juga tentang merawat fondasi budaya bangsa.
Ketua DPRD Kota Padang, Muharlion, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas inisiatif warga RW 15 Lubuk Buaya. Menurutnya, malamang menyimpan nilai gotong royong yang sangat kuat, mulai dari proses mencari bambu, menyiapkan bahan, hingga menjaga nyala api secara bergantian.

“Tradisi seperti malamang harus terus kita jaga dan lestarikan. Selain menjadi bagian dari identitas budaya Minangkabau, kegiatan ini adalah sarana yang sangat efektif untuk mempererat tali silaturahmi dan merawat kebersamaan antarwarga,” ujar Muharlion.
Muharlion menilai momentum perayaan kemerdekaan ke-81 RI adalah saat yang tepat untuk merefleksikan kembali nilai-nilai kebangsaan lewat kearifan lokal. Mengisi kemerdekaan, tegasnya, juga berarti menjaga jati diri daerah agar tidak tergerus zaman.
Ia menaruh harapan besar agar tradisi semacam ini terus dilestarikan secara konsisten dengan melibatkan generasi muda secara aktif. Perayaan kemerdekaan harus diisi dengan tindakan nyata merawat kebudayaan lokal. Generasi penerus perlu dilibatkan langsung agar mengenal, mencintai, dan bangga akan warisan leluhurnya.
Nilai-nilai kebersamaan dalam tradisi malamang menjadi modal sosial yang penting bagi kehidupan bermasyarakat.
“Kemerdekaan bukan hanya kita rayakan dengan kegiatan seremonial, tetapi juga dengan menjaga jati diri dan budaya daerah. Semangat persatuan dan kebersamaan inilah yang perlu terus kita tumbuhkan,” pungkasnya.
Kemeriahan di Lubuk Buaya hari itu ditutup dengan gelak tawa dan sajian lamang hangat yang dinikmati bersama. Di bawah naungan bendera Merah Putih, warga dan pimpinan daerah duduk bersisian, membuktikan bahwa di tanah Minang, persatuan dan kemerdekaan dirayakan dengan merawat tradisi. (sal/*)



Tinggalkan Balasan