- Dua klub swadaya tingkat kecamatan, ATHA Agam dan PSLA Sicincin, menjadi satu-satunya kontestan dari 40 pendaftar yang mengirimkan skuad lengkap di tiga kelompok umur (U-13, U-15, dan U-17) pada Piala Soeratin Sumbar 2026.
- Keikutsertaan ATHA Agam didanai secara mandiri melalui penggalangan dana orang tua pemain akibat minimnya perhatian dan komitmen dari pemerintah daerah serta klub-klub besar di Sumatera Barat.
- Banyak Sekolah Sepak Bola (SSB) aktif terhalang regulasi administratif PSSI untuk tampil di kategori U-17, sementara klub-klub anggota resmi PSSI di daerah tersebut justru bersikap pasif.
PADANG — Tamparan keras kembali mendarat di wajah para kepala daerah dan pengurus klub-klub besar di Sumatera Barat. Di tengah minimnya kepedulian dan komitmen klub-klub papan atas daerah dalam membina pemain muda, dua klub swadaya tingkat kecamatan, ATHA Agam dan PSLA Sicincin justru tampil menjadi penyelamat panggung sepak bola usia muda Ranah Minang.
Kedua klub ini menjadi satu-satunya kontestan dari total 40 tim pendaftar yang sanggup menerjunkan skuad lengkap di tiga kelompok umur sekaligus (U-13, U-15, dan U-17) pada ajang Piala Soeratin Sumbar 2026.
Ironisnya, ATHA Agam yang berpusat di Lubuk Basung harus menggalang dana secara mandiri dengan merogoh kocek para orang tua pemain demi memberangkatkan anak-anak mereka ke ajang resmi PSSI ini.
“Kami mencari dana bersama-sama dengan melibatkan orang tua. Tujuan kami hanya satu, memberi wadah kepada anak-anak Agam yang selama ini jarang mendapat kesempatan karena minimnya keterlibatan klub besar dalam iven usia muda,” ujar Pendiri sekaligus Pemilik ATHA Agam, Benny Sasra, di Lubuk Basung, Rabu (12/8/2026).
Fenomena ini memperlihatkan betapa timpangnya perhatian pemerintah daerah dan klub-klub mapan terhadap masa depan sepak bola lokal. Niat tulus klub kecamatan dan partisipasi finansial para orang tua murid ini semestinya membuat para bupati, wali kota, dan pengurus klub besar merasa malu. Pembinaan generasi muda yang seharusnya menjadi tanggung jawab dan program prioritas daerah, justru dibebankan kepada masyarakat secara swadaya.

Pihak panitia penyelenggara pun tak menampik kenyataan pahit ini. Dari puluhan peserta yang mendaftar, mayoritas klub papan atas dan daerah memilih absen atau hanya setengah hati mengirimkan tim.
“Salut dengan ATHA dan PSLA. Dari 40 tim yang mendaftar, hanya dua tim ini yang memberi kesempatan lengkap kepada pemain U-13, U-15, dan U-17,” ungkap Sekretaris Panitia, Dede Amri (D2), di Padang.
D2 menambahkan bahwa banyak Sekolah Sepak Bola (SSB) sebenarnya berminat menerjunkan tim di kategori U-17. Namun, terbentur aturan regulasi PSSI yang mewajibkan peserta U-17 berstatus sebagai anggota resmi PSSI. Di sinilah letak persoalannya, banyak klub anggota resmi PSSI di Sumbar yang pasif dan ‘tidur’, sementara SSB yang aktif membina justru terhalang dinding administratif.
Jika klub-klub besar dan pemerintah daerah terus-menerus abai terhadap kompetisi usia muda, maka jangan salahkan jika talenta-talenta emas Sumatera Barat akan terus meredup sebelum sempat berkembang. ATHA Agam dan PSLA Sicincin telah memberi pelajaran berharga tentang komitmen nyata bukan sekadar janji manis di atas kertas. (sal)



Tinggalkan Balasan