PADANG, NUSATIME.ID — Keputusan panitia pelaksana Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) menggelar cabang olahraga sepak bola di lapangan yang dinilai jauh dari standar regulasi kompetisi resmi berbuah fatal. Pada laga kedua penyisihan grup menghadapi Tim Kabupaten Agam, kapten sekaligus pemain kunci Kota Padang, Restu Rifai, terpaksa ditandu keluar usai mengalami cedera serius yang mengancam kiprahnya di sisa ajang kompetisi regional ini.
Restu, yang selama ini menjadi jendral lapangan tengah sekaligus motor serangan Kota Padang, dipastikan harus menepi hingga pergelaran Porprov berakhir. Insiden ini memicu sorotan tajam terkait kelayakan venue dan penjadwalan laga yang dinilai mengabaikan faktor keselamatan para atlet.
Pelatih Kepala Tim Kota Padang, Dodi Hirwan Leo, tidak menutupi rasa kekecewaannya atas musibah yang menimpa anak asuhnya. Menurut Dodi, kehilangan Restu memberikan dampak signifikan bagi kedalaman skuadnya di tengah persaingan ketat Porprov.
“Perjuangan tim tentu bakal lebih berat lagi. Pemain kunci kita mengalami cedera yang cukup serius dan kemungkinan besar absen hingga pergelaran Porprov ini berakhir,” ujar Dodi usai pertandingan.
Meski terpukul dengan kondisi tersebut, Dodi menegaskan staf kepelatihan bergerak cepat mengantisipasi kekosongan posisi yang ditinggalkan sang kapten. “Meski begitu, kami di tim pelatih sudah menyiapkan pengganti yang kualitas dan kemampuannya tidak kalah jauh. Fokus kami saat ini menjaga mental bertanding anak-anak,” tambahnya.

Di sisi lain, kondisi lapangan yang keras, permukaan yang tidak rata, serta ukuran yang tidak memenuhi standar regulasi pertandingan nasional disinyalir menjadi pemicu utama tingginya intensitas benturan antar-pemain.
Ketua PSSI Padang, Mastilizal Aye, menyampaikan kritik keras terhadap kesiapan panitia penyelenggara. Ia menilai keselamatan pemain seharusnya menjadi prioritas utama di atas sekadar menuntaskan agenda pertandingan.
“Lapangan yang digunakan sekarang jelas tidak standar. Ukurannya menyempit sehingga kerap terjadi benturan fisik yang tidak perlu antar-pemain. Ditambah lagi permukaannya tidak rata, risiko cedera sangat tinggi dan itu sudah terbukti dengan memakan korban pemain kami,” tegas Mastilizal Aye.
Guna mengantisipasi bertambahnya korban cedera dari tim manapun, Mastilizal Aye mendesak panitia pelaksana Porprov untuk segera memindahkan sisa laga cabor sepak bola ke kelayakan fasilitas yang lebih baik, seperti Stadion Utama.
“Kami sangat berharap sisa laga pertandingan segera dipindah ke Stadion Utama yang sudah memenuhi standar keselamatan dan kualitas pertandingan resmi. Ini demi menjaga masa depan karier para atlet muda yang berlaga di Porprov,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak panitia pelaksana Porprov belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan pemindahan venue maupun evaluasi kelayakan lapangan pertandingan cabor sepak bola.(**)



Tinggalkan Balasan