PARIAMAN, NUSATIME.ID— Ancaman absennya kontingen daerah kembali membayangi perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026. Kota Pariaman melempar sinyal kuat bakal mundur dari pesta olahraga bergengsi tingkat provinsi tersebut jika panitia pelaksana kekeh mengelarnya sesuai jadwal, yakni 2 hingga 14 Oktober 2026.
Keterikatan anggaran yang tak kunjung cair menjadi batu sandungan utama. Ketua KONI Kota Pariaman, Edison TRD, menegaskan bahwa keikutsertaan kontingennya bergantung sepenuhnya pada pencairan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P).
Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Koordinasi bersama jajaran pengurus cabang olahraga (cabor) di Balai Kota Pariaman, Kamis (17/9/2026).
“Untuk mengikuti Porprov, KONI Pariaman murni bergantung pada APBD Perubahan. Sampai saat ini posisinya masih dalam proses evaluasi dan kemungkinan baru turun kembali ke Pemko pada akhir September,” ujar Edison di hadapan para pengurus cabor.
Proses administrasi usai evaluasi masih membutuhkan waktu yang tidak singkat, mulai dari pembahasan ulang bersama pihak terkait hingga penyelesaian Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD). Dana hibah tersebut diproyeksikan baru bisa cair sepenuhnya pada minggu pertama Oktober.

Secara teknis dan logistik, situasi ini menjepit kontingen Pariaman. Mengingat pelaksanaan ajang multievent membutuhkan persiapan matang serta dukungan dana mendesak sejak awal pembukaan, kepastian anggaran pada minggu pertama Oktober dinilai sudah sangat terlambat untuk mendukung keberangkatan atlet pada 2 Oktober.
Meski begitu, Edison meluruskan bahwa sikap ini bukan bentuk penolakan terhadap ajang Porprov. Kota Pariaman menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh gelaran Porprov 2026, dengan catatan ada penyesuaian jadwal demi kelancaran seluruh proses operasional.
“KONI Pariaman memohon adanya pergeseran jadwal pelaksanaan ke bulan November agar semua proses bisa aman. Namun, jika jadwal tetap dipaksakan mulai 2 Oktober, Pariaman mempertimbangkan serius untuk tidak ikut bertanding, kecuali ada solusi konkret lain,” tegasnya.
Sikap tegas KONI Pariaman ini bukan sekadar keputusan sepihak. Langkah untuk berpotensi absen dari ajang olahraga terbesar di Sumbar tersebut mengantongi dukungan bulat dari 40 pengurus cabang olahraga yang hadir dalam rapat koordinasi tersebut.
Kini, bola panas berada di tangan Panitia Besar Porprov dan Pemprov Sumbar. Keputusan fleksibilitas jadwal akan menjadi penentu apakah ratusan atlet potensial asal Kota Pariaman bisa berlaga atau hanya menjadi penonton di ajang Porprov 2026. (**)



Tinggalkan Balasan