PADANG, NUSATIME.ID — Suara peluit panjang penanda berakhirnya gelaran Piala Soeratin Zona Sumatera Barat baru saja meredup. Lapangan hijau mungkin sempat hening sejenak, namun di kepala Renol Palek Fadli, alur pembinaan sepak bola usia muda di Ranah Minang tidak boleh berhenti bergerak.
Tokoh sepak bola Sumbar yang akrab disapa Palek ini kembali menginisiasi agenda besar. Belum hilang lelah mengawal kompetisi resmi, ia bersiap menggulirkan kembali Liga Pelajar antar-SMP dan SMA sederajat se-Sumatera Barat. Sebuah wadah turnamen antarsekolah yang sekian lama vakum dan berada dalam dahaga ruang kompetisi.
“Pemain muda tidak butuh sekadar latihan rutin; mereka butuh panggung bertanding yang kompetitif untuk mematangkan mentalitas juara,”’ujar Palek di Padang, Minggu (13/9/26).
Pengalaman beroperasi di garis depan pembinaan membuat Palek paham betul persoalan mendasar pesepak bola muda Minangkabau, minimalnya menit bermain resmi.
Tanpa alur turnamen yang berkelanjutan, bakat-bakat potensial dari berbagai pelosok daerah kerap terhenti di fase latihan tanpa pernah teruji dalam tekanan laga sesungguhnya. Rencana kebangkitan Liga Pelajar ini dirancang mengisi ruang kosong tersebut, memberikan panggung bagi ribuan pelajar SMP dan SMA untuk terus mengasah kemampuannya secara terstruktur.

Dampak pengguliran Liga Pelajar ini tidak hanya berputar di area teknis taktik dan stamina, tetapi merambah jauh ke dalam dimensi sosial kemasyarakatan.
Fenomena kenakalan remaja dan aksi tawuran antar-pelajar kerap dipicu oleh minimnya ruang ekspresi bagi agresivitas khas anak muda. Liga Pelajar hadir sebagai benteng sosial, mengalihkan energi emosional pelajar ke dalam arena kompetisi yang sportif.
Ketegangan tradisional antar-sekolah yang kerap berujung pada gesekan di jalanan dialihkan menjadi persaingan sehat memperebutkan martabat sekolah di atas lapangan hijau.
Tidak semua pemain berbakat terakomodasi di Akademi Sepak Bola atau Sekolah Sepak Bola (SSB) formal. Turnamen antarsekolah menjadi jaring penyaring yang efektif bagi pemandu bakat untuk menemukan “mutiara tersembunyi” dari sekolah-sekolah di pelosok daerah.
Kompetisi resmi mengajarkan para pelajar memahami arti kepemimpinan, kepatuhan pada aturan (fair play), serta melatih kedewasaan dalam menerima kekalahan maupun merayakan kemenangan.
Langkah berani Renol Palek Fadli menegaskan satu hal, pembinaan sepak bola usia dini di Sumatera Barat membutuhkan konsistensi tanpa henti. Menghidupkan kembali Liga Pelajar bukan sekadar menggelar turnamen singkat, melainkan investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi muda sekaligus memastikan rantai pasok bakat sepak bola Ranah Minang tidak pernah putus. (sal)



Tinggalkan Balasan