PADANG, NUSATIME.ID— Desakan agar pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumatera Barat 2026 digeser dari jadwal awal bulan Oktober ke minggu kedua November semakin menguat.
Tokoh olahraga Sumbar, Prof. Eri Berlian, meminta pihak terkait dan pemangku kepentingan untuk tidak menutup mata terhadap aspirasi KONI Kabupaten/Kota demi kelancaran serta keamanan regulasi di kemudian hari.
Penundaan ini dinilai sebagai langkah rasional, mengingat mayoritas daerah hingga kini masih berproses dan belum menuntaskan pembahasan APBD Perubahan (APBD-P). Tanpa kepastian anggaran, kesiapan kontingen dari daerah tentu akan terganggu.
“Permintaan ini sama sekali bukan untuk membatalkan Porprov, melainkan menunda pelaksanaannya agar semua pihak siap secara matang dan aman secara aturan keuangan,” tegas Prof. Eri Berlian di Padang, Sabtu (12/9/26).
Sinyal hijau terkait penyesuaian jadwal ini sebenarnya juga sejalan dengan arahan pimpinan daerah. Wakil Gubernur Sumbar sebelumnya telah menegaskan bahwa prinsip utamanya adalah Porprov wajib dilaksanakan pada tahun 2026 ini, tanpa ada keharusan mengunci jadwal di bulan Oktober.

Prof. Eri menjelaskan bahwa usulan pergeseran jadwal ini sudah disuarakan sejak awal.
“Saya sudah lama mengusulkan hal ini. Sejak pertemuan Technical Delegate (TD) di FIK UNP, saya sudah menyampaikan agar pelaksanaan diundur ke minggu kedua November 2026. Usulan ini berangkat dari hasil diskusi dan rapat PODSI bersama Pengcab Kabupaten/Kota yang mengeluhkan persoalan kesiapan dana,” ungkapnya.
Dalam rapat yang digelar siang tadi, Prof. Eri kembali menegaskan komitmennya agar Porprov tetap berputar pada tahun 2026, namun dengan catatan panitia penelenggara harus melihat realitas objektif di lapangan.
Ia mengingatkan panitia agar tidak terjebak pada laporan formalitas semata. “Terima informasi kesiapan yang riil di lapangan, jangan sekadar Asal Bapak Senang (ABS). Kondisi riil di bawah belum sepenuhnya tuntas untuk menggelar agenda sebesar Porprov. Berdasarkan skedul acara, semua calon tuan rumah seharusnya menyampaikan kesiapan secara terbuka, namun yang tampil sejauh ini baru Kota Padang dan Kepulauan Mentawai,” tambahnya.
Bahkan bagi daerah seperti Kota Padang yang dinilai paling siap dari segi pendanaan, waktu tambahan tetap sangat dibutuhkan. Padang harus mempersiapkan teknis penyelenggaraan untuk 20 cabang olahraga (cabor) yang dipertandingkan, sebuah tugas logistik yang tidak ringan, apalagi bagi kabupaten/kota lain yang proses pendanaannya belum rampung.
Di sisi lain, penundaan jadwal hingga November membawa dampak positif dari sudut pandang pembinaan prestasi. Tambahan waktu satu bulan memberi ruang ekstra bagi pelatih dan pengurus cabor untuk memantangkan persiapan atlet-atlet muda masa depan Sumbar.
Dengan masa persiapan (tapering dan pemantapan taktik) yang lebih ideal, kualitas kompetisi akan meningkat dan potensi atlet muda potensial dapat tergali secara maksimal untuk mengharumkan nama Sumatera Barat di level nasional kelak. (sal)



Tinggalkan Balasan