PAINAN, NUSATIME.ID — Penanganan pascabencana hidrometeorologi di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, terus dipercepat. Tim gabungan berfokus memfokuskan pembersihan material lumpur, pembukaan akses Jalan Nasional yang amblas, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak di Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan.
Bencana ini dipicu hujan deras berdurasi panjang di wilayah hulu sejak Kamis (9/10/2026) hingga Jumat (10/10/2026). Tingginya intensitas hujan memicu tanah longsor dan luapan sungai yang menerjang sedikitnya sembilan nagari.
Dampak terparah mencakup 13 unit rumah warga yang diterjang tanah longsor, dua unit hancur total dan 11 unit mengalami rusak sedang hingga ringan. Selain itu, akses Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Sumatera Barat dengan provinsi tetangga sempat lumpuh total.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pesisir Selatan, Armen, menyatakan tim gabungan telah mendirikan posko tanggap darurat dan Dapur Umum Lapangan untuk menyuplai pangan, matras, dan selimut bagi warga terdampak.
“Personel di lapangan langsung berfokus pada tindakan operasional dan evakuasi warga. Untuk dua keluarga yang rumahnya hancur total, saat ini dievakuasi sementara ke rumah kerabat sembari dilakukan pendataan skema bantuan perbaikan,” ujar Armen, Senin (12/10/26).

Di sepanjang jalur nasional yang tertutup tujuh titik longsor, Dinas Pekerjaan Umum bersama Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) mengerahkan alat berat untuk membersihkan lumpur dan mengikis lereng jalan yang amblas sepanjang 100 meter. Penanganan darurat diprioritaskan untuk membuka akses satu lajur agar kendaraan logistik dan evakuasi dapat melintas.
Guna mencegah penyebaran penyakit pascabencana, tim medis Puskesmas setempat mulai menyisir permukiman warga untuk mengantisipasi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan gangguan pencernaan. Sementara itu, armada Dinas Pemadam Kebakaran dikerahkan menyemprot sisa endapan lumpur pekat di dalam rumah warga.
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan bersama BPJN kini mulai merancang penanganan permanen untuk penguatan tebing jalan yang amblas. Posko siaga bencana dipastikan beroperasi 24 jam mengingat potensi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di sepanjang kawasan Pegunungan Bukit Barisan. (**)



Tinggalkan Balasan