Rangkuman Utama
  • Laga final sepak bola Porprov Sumbar antara Kota Sawahlunto dan Kota Payakumbuh menuai sorotan penonton akibat penggunaan pengeras suara stadion oleh komentator sepanjang laga layaknya turnamen antarkampung.
  • Keberadaan komentar langsung di dalam stadion dinilai melanggar regulasi sepak bola resmi karena fungsi pengeras suara dibatasi hanya untuk pengumuman administratif demi menjaga konsentrasi pemain dan wasit.
  • Panitia penyelenggara menyatakan telah mengetahui keluhan tersebut dan melayangkan teguran di lapangan, namun aksi komentator tetap berlanjut hingga pertandingan berakhir.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PADANG, NUSATIME.ID— Pertandingan final cabang olahraga (cabor) sepak bola Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang mempertemukan tim Kota Sawahlunto melawan Kota Payakumbuh di Stadion Utama Sumatera Barat, Rabu (14/10/2026), menuai sorotan dari penonton. Pasalnya, keberadaan komentator atau announcer yang terus berbicara menggunakan pengeras suara sepanjang laga dinilai tidak sesuai dengan regulasi pertandingan resmi.

Sejumlah penonton yang hadir di stadion mengeluhkan aksi komentator yang dinilai mengganggu jalannya laga serta suasana pertandingan profesional.

“Ini pertandingan final Porprov apa tarkam (tarikan kampung)? Masak ada komentator menggunakan mikrofon sepanjang pertandingan,” ujar Andi, salah seorang penonton yang menyaksikan laga tersebut secara langsung.

Andi menambahkan bahwa berdasarkan pengetahuannya, penggunaan pengeras suara di area lapangan pertandingan resmi memiliki aturan tersendiri. “Sepengetahuan saya, saat pertandingan di areal lapangan ini suara mikrofon hanya boleh saat mengumumkan pergantian pemain dan mengumumkan tambahan waktu,” tambahnya.

Kritik senada disampaikan oleh penonton lainnya, Dodi. Ia menilai atmosfer pertandingan final ajang olahraga tingkat provinsi ini menjadi layaknya laga antarkampung akibat hal tersebut. “Kayak menyaksikan pertandingan antar kampung. Masak pertandingan resmi ada komentatornya,” ungkap Dodi.

Secara aturan dalam dunia sepak bola, pemandu acara atau stadium announcer di pinggir lapangan memang dibatasi fungsinya. Komentator pertandingan idealnya bertugas di dalam ruang khusus (media booth) atau studio untuk kebutuhan siaran televisi/radio, sehingga suaranya tidak disalurkan ke pengerassuara stadion (public address system) yang dapat didengar langsung oleh para pemain serta wasit di lapangan. 

Regulasi FIFA melarang keras adanya gangguan audio atau ulasan langsung di dalam stadion yang berpotensi memecah konsentrasi pemain dan wasit, memicu protes, hingga membocorkan keputusan taktis selama laga berlangsung. Suara pengeras suara stadion pada umumnya hanya diperbolehkan untuk pengumuman resmi seperti susunan pemain, pergantian pemain, serta alokasi waktu tambahan. 

Pihak panitia penyelenggara saat dikonfirmasi menyatakan telah mengetahui keluhan tersebut dan mengaku telah memberikan teguran kepada pihak terkait di lapangan. Namun, hingga laga berakhir, aksi penyiaran komentar di sepanjang pertandingan tersebut tetap berlangsung. (**)