Oleh: Faisal Budiman, S.H.
(Wartawan Utama / Pemegang Number One Press Card)

Setiap kali masukan dan kritik dilayangkan oleh figur atau kelompok yang berseberangan pasca-pemilihan dalam organisasi olahraga, satu kaset lama yang selalu diputar ulang ke publik adalah stigma, barisan sakit hati.

Senjata kata-kata ini seolah menjadi tameng sakti yang teruji ampuh untuk mementalkan setiap argumen konstruktif, sekaligus membungkam suara-suara yang berniat meluruskan.

Padahal, jika mau sedikit meluangkan waktu untuk menjernihkan mata dan hati, apa yang dilakukan oleh kelompok yang berseberangan itu murni berlandaskan niat baik, mengingatkan agar agenda atau acara olahraga yang bakal digelar berjalan sukses tanpa cela.

Sungguh aneh dan tak masuk akal ketika sebuah ikhtiar menjaga marwah organisasi justru dicap sebagai bentuk kedengkian politik kekuasaan.

Satu hal yang kerap dilupakan atau sengaja dikaburkan oleh pihak pengurus adalah bahwa kelompok yang berseberangan saat pemilihan pimpinan tidak pernah menolak apalagi menentang agenda olahraga yang akan diselenggarakan.

Fokus mereka sama sekali bukan untuk menggagalkan acara. Yang mereka mintakan sederhana dan rasional, persiapannya dirancang lebih matang, tata kelolanya transparan, dan pelaksanaannya berjalan profesional tanpa ada celah celaka.

Lantas, bagaimana seharusnya sikap bijak seorang pemimpin atau pihak yang dipercaya mengelola organisasi olahraga saat menerima masukan dari mantan rivalnya?

Pertama, lepaskan kacamata paranoia politik. Pemilihan telah selesai, dan saat kepemimpinan diketuk, pimpinan terpilih adalah milik seluruh anggota, bukan lagi sekadar milik pilar pendukungnya. Setiap masukan yang masuk dari pihak luar lingkaran inti harus dipandang sebagai pembanding (second opinion) yang berharga, bukan ancaman terhadap ego kepemimpinan.

Kedua, kedepankan kedewasaan dan proporsionalitas. Seseorang yang memimpin organisasi olahraga idealnya memiliki kebesaran jiwa (sportsmanship) nilai dasar yang justru diajarkan di dalam lapangan. Mengklaim setiap kritik sebagai wujud “sakit hati” adalah bentuk defleksi yang mencerminkan ketidaksiapan pimpinan dalam mengelola perbedaan pendapat secara dewasa.

Ketiga, jadikan kritik sebagai mekanisme kontrol kualitas (quality control). Dalam menyelenggarakan sebuah kejuaraan atau agenda besar, blind spot atau titik buta kepanitiaan pasti ada. Kelompok berseberangan biasanya melihat potensi bahaya yang tidak disadari oleh mereka yang mabuk dalam lingkaran kekuasaan. Merangkul masukan tersebut justru menuntun pada persiapan yang jauh lebih matang, minim risiko, dan berujung pada kesuksesan bersama.

Pada akhirnya, kesuksesan sebuah acara olahraga tidak ditentukan oleh seberapa pandai pengurus membungkam suara sumbang, melainkan seberapa siap mereka membuka telinga dan merangkul semua elemen. Sudah saatnya narasi “barisan sakit hati” dipensiunkan, lalu digantikan dengan semangat kolaborasi yang substansial demi kemajuan olahraga itu sendiri.(**)