Solo – Mantan Presiden Joko Widodo akhirnya menyediakan waktu untuk wawancara on the record bersama tim Bocor Alus Tempo di kediamannya di Solo, Jawa Tengah, Selasa, 11 Agustus 2026.
Wawancara tersebut menjadi pertemuan kedua antara Jokowi dan tim Bocor Alus Tempo. Sebelumnya, pada 22 Juli 2026, tim yang sama telah bertemu Jokowi untuk wawancara off the record.
Dalam wawancara kali ini, Tempo mengirimkan empat penyiar Bocor Alus, yakni Raymundus Rikang, Francisca Christy Rosana, Hussein Abri Dongoran, dan Stefanus Pramono. Wawancara berlangsung selama dua jam dan akan tayang di YouTube Tempo.
Para host Bocor Alus menyampaikan berbagai pertanyaan kepada Jokowi, mulai dari politik, pemerintahan, perkembangan ekonomi Indonesia maupun global, kesehatan, hingga rencananya bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Selain mengonfirmasi liputan-liputan Tempo, tim juga melontarkan sejumlah pertanyaan publik yang berkembang di media sosial.

Redaktur Pelaksana Politik Tempo Raymundus Rikang mengatakan wawancara tersebut telah dirancang cukup lama. Setelah berkali-kali mengirim surat permintaan wawancara untuk konfirmasi setiap kali hendak menurunkan liputan yang menyangkut Jokowi, tim komunikasi Jokowi kemudian menghubungi Tempo untuk penjajakan.
“Rumah saya terbuka untuk siapa saja,” ujar Jokowi.
Lantas, kapan wawancara tersebut akan tayang?
“Tunggu tanggal mainnya,” kata Rikang.
Dua Pertemuan dalam Rentang Kurang dari Sebulan
Pertemuan antara Jokowi dan tim Bocor Alus Tempo kali ini menarik perhatian karena bukan kali pertama terjadi.
Pada 22 Juli 2026, tim Bocor Alus juga datang ke kediaman Jokowi di Solo untuk wawancara off the record. Kedatangan tersebut sempat menjadi perhatian publik setelah rekamannya beredar.
Kemudian, pada 11 Agustus 2026, pertemuan kembali dilakukan. Kali ini berlangsung lebih terbuka dengan wawancara on the record.
Judul yang disiapkan pun cukup sederhana: “Jokowi Undang Bocor Alus Tempo Bicara Politik Mutakhir”.
Pertemuan media dengan narasumber tentu bukan sesuatu yang luar biasa. Namun, rangkaian pertemuan tersebut kembali membuka perhatian terhadap hubungan Jokowi dan Tempo, termasuk jejak pemberitaan Tempo terhadap Jokowi sejak Pilpres 2014.
Jejak Tempo dan Jokowi pada Pilpres 2014
Untuk melihat konteks hubungan tersebut, jejaknya dapat ditarik ke Pilpres 2014.
Saat itu, dua pasangan berhadapan, yakni Joko Widodo-Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
Tempo bukan penonton netral dalam arti persepsi publik. Ada penelitian akademik yang secara eksplisit menyimpulkan bahwa Tempo memilih posisi pro-Jokowi pada Pilpres 2014.
Alasannya pun dicatat: Tempo menilai Prabowo memiliki persoalan terkait dugaan pelanggaran HAM dan dianggap tidak sesuai dengan karakter pemimpin yang mereka harapkan.
Sampul Tempo edisi 7–13 April 2014 yang menampilkan Jokowi dan Prabowo dalam karikatur politik kemudian menjadi objek penelitian akademik.
Kemudian muncul edisi khusus 30 Juni–6 Juli 2014 dengan judul besar “Bowo, Joko, Hatta & Kalla”.
Cara kedua tokoh dibingkai juga menjadi perhatian. Prabowo dibuka dengan “Ambisi Lama Sang Jenderal”, sedangkan Jokowi dengan “Meteor Politik dari Kampung”.
Itu bukan sekadar pilihan kata. Itu adalah framing.
Penelitian mengenai proses gatekeeping Tempo mencatat bahwa pada masa kampanye, Jokowi berkali-kali tampil dengan citra positif, sementara Prabowo memperoleh framing yang lebih negatif.
Pada edisi 14–20 Juli 2014, Tempo kembali menampilkan judul “Jokowi!”. Laporan utamanya menggambarkan Jokowi sebagai kandidat yang elektabilitasnya kembali “berlari”, dengan dukungan relawan dan selebritas yang semakin kuat.
Tempo juga membahas strategi media sosial dan dukungan artis yang digunakan untuk mendongkrak elektabilitas Jokowi.
Setelah kemenangan, muncul pula edisi “Jokowi & Para Relawan”.
Karena itu, pernyataan bahwa Tempo pada 2014 merupakan salah satu media yang mendukung Jokowi bukan sekadar komentar di media sosial. Ada jejak akademiknya.
Dukungan Tak Berarti Selamanya
Namun, sejarah tersebut tidak berhenti pada Pilpres 2014.
Media tidak harus menjadi teman permanen pemerintah. Bahkan media yang sebelumnya mendukung seorang kandidat justru seharusnya menjadi pengawas setelah kandidat tersebut berkuasa.
Tempo kemudian mengkritik Jokowi.
Penelitian akademik tentang Tempo mencatat perubahan tersebut. Citra Jokowi yang sebelumnya positif pada masa kampanye kemudian berubah ketika ia sudah menjadi presiden.
Artinya, dukungan politik pada 2014 tidak otomatis berarti menjadi dukungan permanen.
Karena itu, tidak tepat jika sejarah tersebut langsung dijadikan kesimpulan bahwa seluruh pemberitaan Tempo saat ini merupakan pesanan Jokowi. Hal tersebut tidak terbukti.
Namun, rangkaian pertemuan pada 2026 tetap menarik untuk dilihat dalam konteks perkembangan politik terkini.
Bocor Alus selama beberapa tahun terakhir identik dengan informasi politik yang tajam, bocoran, sumber anonim, informasi belakang layar, dan percakapan politik.
Kini, tim tersebut dua kali bertemu Jokowi dalam rentang waktu kurang dari sebulan.
Pertemuan pertama pada 22 Juli berlangsung off the record. Pertemuan kedua pada 11 Agustus berlangsung on the record dan akan ditayangkan di YouTube Tempo.
Pertanyaannya bukan sekadar mengapa Tempo bertemu Jokowi. Media bertemu narasumber merupakan hal yang normal.
Yang kemudian menjadi perhatian adalah mengapa pertemuan itu berlangsung sekarang, apa agenda politik yang dibicarakan, dan apa yang berubah dalam hubungan Jokowi dengan kekuasaan.
Wawancara tersebut juga membuka ruang bagi publik untuk mendengar langsung jawaban Jokowi mengenai politik, pemerintahan, ekonomi Indonesia dan global, kesehatan, hingga rencananya bersama PSI.
Publik kini tinggal menunggu kapan wawancara yang berlangsung selama dua jam tersebut ditayangkan.
“Tunggu tanggal mainnya,” kata Rikang. (fix)



Tinggalkan Balasan