BUKITTINGGI, NUSATIME.ID – Pengurus PSSI Kota Bukittinggi menyampaikan kekecewaan setelah tim sepak bola dan futsal daerah tersebut tidak terdaftar sebagai peserta Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI Sumatera Barat 2026.

Situasi ini menjadi perhatian pengurus karena persiapan atlet dan kebutuhan teknis disebut telah dilakukan secara mandiri selama empat bulan terakhir.

Pelaksana Tugas (Plt) PSSI Kota Bukittinggi, Dolly Ivonne, menyayangkan tidak terdaftarnya kedua cabang olahraga tersebut, meskipun pengurus mengaku telah mengikuti prosedur administrasi yang diperlukan.

“Tentunya sedih rasanya. Seluruh prosedur sudah kami ikuti dan tidak pernah ada masalah, mulai dari undangan verifikasi data futsal dan sepak bola di KONI Bukittinggi yang berjalan lancar. Namun pada akhirnya kami malah tidak diikutkan,” ujar Dolly Ivonne, Kamis (1/10/2026).

Persiapan Tim Dimulai Sejak Juni 2026

Dolly menjelaskan, persiapan menghadapi Porprov XVI Sumbar 2026 mulai dilakukan setelah PSSI Bukittinggi menerima Surat Keputusan (SK) pada 11 Juni 2026.

Pada malam harinya, pengurus langsung menggelar pertemuan dengan para senior dan pemerhati sepak bola untuk menyusun langkah persiapan.

Upaya tersebut dilakukan agar para atlet Bukittinggi tetap memiliki kesempatan bertanding setelah Porprov mengalami penundaan.

Selanjutnya, proses seleksi pemain dilaksanakan pada 13–14 Juni 2026. Para pemain terpilih kemudian menjalani latihan rutin sebagai bagian dari persiapan menghadapi kompetisi.

Selain pemusatan latihan, tim juga menjalani sejumlah pertandingan uji coba atau sparing ke luar daerah.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dibiayai secara mandiri oleh pengurus bersama para pecinta sepak bola setempat, tanpa mengandalkan bantuan dari pihak luar.

PSSI Bukittinggi Minta Kejelasan kepada KONI

Ketidakpastian mengenai keikutsertaan tim mulai menjadi persoalan menjelang pendaftaran kontingen Porprov XVI Sumbar 2026.

Pada Senin (28/9/2026), PSSI Bukittinggi telah mengirimkan surat resmi kepada Ketua KONI Bukittinggi. Surat tersebut berisi permohonan kejelasan mengenai status keikutsertaan cabang olahraga sepak bola dan futsal dalam ajang olahraga tingkat provinsi tersebut.

Namun, hingga Kamis (1/10/2026), pengurus PSSI Bukittinggi mengaku belum menerima jawaban yang memberikan kepastian terkait keikutsertaan kedua cabang olahraga itu.

Kondisi tersebut menambah kekecewaan pengurus, terutama karena persiapan atlet telah berjalan dan melibatkan upaya serta pembiayaan secara mandiri selama beberapa bulan.

Di tengah persoalan tersebut, PSSI Bukittinggi menyatakan tidak ingin memperpanjang polemik.

Pengurus memilih memprioritaskan kondisi psikologis para pemain muda yang terdampak oleh ketidakpastian keikutsertaan dalam Porprov 2026.

Dolly berharap pengalaman ini menjadi bahan evaluasi bagi pengelolaan sepak bola di Kota Bukittinggi agar penyelenggaraan dan pembinaan olahraga ke depan dapat berjalan lebih baik.

“Sebenarnya kami orang olahraga dan tidak ingin berpolemik. Fokus utama kami saat ini adalah memulihkan kesehatan mental anak-anak, para pemain, serta pengurus. Kami berharap ke depannya tata kelola olahraga di Bukittinggi bisa menjadi jauh lebih baik,” pungkas Dolly. (*)