Rangkuman Utama
  • Kerusakan jalan provinsi di kawasan Kelok 44, Kabupaten Agam, khususnya di Kelok 8, 9, dan 10, kian meluas dan mengancam putusnya akses transportasi utama penghubung Lubuk Basung–Maninjau–Bukittinggi.
  • Kondisi jalur tersebut dinilai sangat rawan longsor susulan akibat terbentuknya cerukan di bawah permukaan aspal yang terus terkikis aliran air, terutama saat curah hujan tinggi.
  • Keselamatan pengguna jalan kian terancam akibat minimnya penerangan pada malam hari, sementara belum ada langkah penanganan darurat maupun rencana perbaikan resmi dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Agam-Kondisi ruas jalan provinsi di kawasan Kelok 44, yang melintasi Kecamatan Tanjung Raya dan Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, semakin membahayakan bagi pengguna jalan. Kerusakan akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada 2025 terus meluas dan kini mengancam putusnya akses transportasi utama Lubuk Basung–Maninjau–Bukittinggi.

Berdasarkan pantauan hingga Rabu (1/7/2026), kerusakan paling parah terjadi di ruas Kelok 8, Kelok 9, dan Kelok 10. Badan jalan yang telah runtuh sejak sekitar delapan bulan lalu kini semakin tergerus, sehingga kondisi jalan dinilai sangat rawan dilalui kendaraan.

Ketua Taruna Siaga Bencana (TKSK) Kabupaten Agam, Miswardi, mengatakan kondisi di sekitar Kelok 10 semakin mengkhawatirkan. Selain sebagian badan jalan telah amblas akibat longsor, di bawah permukaan jalan juga terbentuk cerukan yang terus terkikis aliran air, sehingga meningkatkan risiko terjadinya longsor susulan.

“Jika curah hujan tetap tinggi seperti beberapa hari terakhir, dikhawatirkan ruas jalan di Kelok 9 hingga Kelok 10 akan mengalami keruntuhan yang lebih besar, bahkan berpotensi putus total,” ujarnya.

Menurut Miswardi, kondisi tersebut menjadi ancaman serius karena Kelok 44 merupakan jalur vital yang menghubungkan Lubuk Basung, Maninjau, dan Bukittinggi. Putusnya ruas jalan itu akan berdampak langsung terhadap mobilitas masyarakat maupun distribusi barang.

Sebagai langkah antisipasi, sejak jalan tersebut mengalami kerusakan akibat longsor sekitar delapan bulan lalu, telah dipasang garis polisi di lokasi yang rawan amblas sebagai peringatan kepada pengguna jalan agar lebih berhati-hati saat melintas.

Meski demikian, ia mengaku masih mengkhawatirkan keselamatan pengguna jalan, terutama pada malam hari. Minimnya penerangan di sepanjang jalur Kelok 44 membuat kondisi jalan yang rusak sulit terlihat oleh pengendara.

“Yang paling kami khawatirkan adalah pengguna jalan yang melintas pada malam hari. Kawasan ini sangat gelap karena tidak ada lampu penerangan jalan. Kondisinya benar-benar membahayakan,” katanya.

Sementara itu, pada Rabu malam, personel Polsek Tanjung Raya dilaporkan telah melakukan pemantauan langsung ke lokasi kerusakan dan bersiaga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsor susulan maupun gangguan terhadap arus lalu Belum diperoleh informasi resmi mengenai langkah penanganan darurat maupun rencana perbaikan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terhadap ruas jalan Kelok 44 yang mengalami kerusakan cukup parah sejak bencana hidrometeorologi 2025. (**)