Oleh : Drs.H.Marlis,MM, C.Med ( CEO ALINIA GROUP )
JAKARTA, NUSATIME.ID, 25 Oktober 2026 – Coba perhatikan orang-orang yang paling sering menghabiskan waktu bersama kita. Apa yang biasanya dibicarakan? Ide, peluang, dan rencana masa depan? Atau sekadar keluhan dan membicarakan kekurangan orang lain?
Pelan-pelan, obrolan itu membentuk cara berpikir. Kebiasaan mereka ikut memengaruhi kebiasaan kita. Itulah sebabnya, memilih pergaulan juga berarti memilih arah perjalanan hidup.
Berteman dengan orang yang suka belajar membuat kita terpacu menambah ilmu. Dekat dengan orang yang tekun berusaha mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah. Berada di lingkungan yang berani bermimpi membuat kita ikut berani melangkah.
Namun, dekat dengan orang hebat saja belum cukup. Kita juga harus mau belajar dan bergerak. Jangan sampai setiap hari membicarakan kesuksesan, tetapi terus menunda pekerjaan.

Ada pesan sederhana: ikuti lebah, ia akan membawamu ke bunga. Carilah lingkungan yang membantu kita tumbuh. Teman yang baik bukan hanya asyik diajak tertawa, tetapi juga berani mengingatkan ketika kita salah.
Berhati-hatilah dengan lingkungan pertemanan yang terus memelihara pikiran negatif. Setiap ada ide, diremehkan. Setiap ada peluang, dicurigai. Setiap kita ingin maju, yang terdengar justru, “Sudahlah, kamu tidak akan bisa.”
Pola pikir seperti itu bisa menular, ibarat penyakit yang perlahan menggerogoti semangat. Jika terus diserap, kita bisa ikut meragukan kemampuan sendiri, takut mencoba, lalu menyerah sebelum melangkah. Yang terkikis bukan hanya rasa percaya diri, tetapi juga kesempatan membangun masa depan.
Tetaplah peduli kepada teman yang sedang kesulitan. Namun, jangan biarkan kebiasaan merendahkan dan mematahkan harapan menguasai pikiran kita. Dengarkan kritik yang membantu kita memperbaiki langkah; batasi pengaruh ucapan yang hanya membuat kita merasa tidak berdaya.
Tentu, memilih teman bukan soal kaya atau miskin, punya jabatan atau tidak. Kita bisa belajar kerja keras dari pedagang kecil, ketulusan dari seorang relawan, dan keteguhan dari teman yang berjuang membiayai kuliahnya sendiri. Nilai seseorang terlihat dari sikap dan perbuatannya.
Bagi anak muda Indonesia, dari sinilah bekal kepemimpinan dibangun. Mulai dari hal yang dekat: datang tepat waktu, menepati janji, menyelesaikan tugas, dan mau bertanggung jawab ketika melakukan kesalahan.
Sebelum memimpin orang lain, belajarlah memimpin diri sendiri.
Tidak perlu menunggu menjadi ketua organisasi atau punya usaha besar untuk menunjukkan kemampuan. Saat teman kesulitan, bantu. Saat ada masalah, tawarkan jalan keluar. Saat mendapat tugas, kerjakan sampai tuntas.
Kepercayaan tumbuh dari tindakan sederhana yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Gunakan masa muda untuk mencoba, belajar, dan menghasilkan karya. Ponsel di tangan bisa menjadi tempat belajar. Pertemanan bisa melahirkan usaha. Ide sederhana bisa menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi banyak orang—asal ada keberanian untuk memulainya.
Kalau gagal, perbaiki langkah. Kalau belum tahu, bertanya. Kalau berhasil, ajak teman ikut maju. Pemimpin yang baik memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang.
Anak muda Indonesia, kamu tidak harus lahir dari keluarga berada untuk punya cita-cita besar. Mulailah dengan apa yang kamu miliki, dari tempatmu berdiri hari ini.
Pilih teman yang membuatmu bertumbuh. Jadilah teman yang membawa pengaruh baik. Lalu buktikan lewat karya bahwa masa mudamu berarti bagi Indonesia!



Tinggalkan Balasan