Rangkuman Utama
  • Penjaga gawang Semen Padang FC, Ikram Al Giffari, tampil impresif dengan mencatatkan delapan penyelamatan krusial untuk menyelamatkan timnya dari kekalahan melawan PSIS Semarang.
  • Performa gemilang kiper muda asal Pesisir Selatan tersebut merupakan buah proses pembinaan terstruktur sejak di SSB Remaja Tarusan, PSP Padang pada ajang Piala Soeratin, hingga PPLP Sumbar.
  • Kematangan mental dan kualitas teknik Ikram semakin teruji berkat rekam jejak panjangnya memperkuat Timnas Indonesia di kelompok umur U-16, U-17, hingga U-19.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

BEKASI, NUSTIME.ID — Kalau bukan karena ketangguhan Ikram Al Giffari di bawah mistar, gawang Semen Padang FC mungkin sudah berkali-kali bergetar. Kiper muda bertalenta ini tampil luar biasa menjadi pahlawan yang menyelamatkan skuad Kabau Sirah dari kekalahan saat berhadapan dengan PSIS Semarang di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Minggu (20/9/2026) malam.

Dalam laga yang berlangsung sengit dan bertensi tinggi tersebut, pemain kelahiran Pesisir Selatan (Pessel) tahun 2006 ini dipaksa bekerja ekstra keras selama 90 menit penuh. PSIS yang tampil menekan berkali-kali melancarkan ancaman berbahaya. Namun, setidaknya ada 8 peluang emas lawan yang berhasil dipatahkan satu per satu oleh refleks cepat dan ketenangan Ikram. Delapan penyelamatan krusial itu menegaskan perannya sebagai dinding kokoh pertahanan Semen Padang FC.

Aksi impresif Ikram di Stadion Patriot malam itu seolah menjadi deja vu atau kilas balik memori perjalanan kariernya. Penampilannya saat membendung gempuran PSIS sangat mengingatkan pada momen ketika ia tampil luar biasa di putaran nasional Piala Soeratin U-15 bersama PSP Padang.

Kala itu, di setiap pertandingan yang dilakoni Pandeka Mudo, Ikram selalu hadir sebagai benteng terakhir yang berdiri kokoh menyelamatkan gawang dari kepungan serangan lawan. Refleks dingin dan mental baja yang ditunjukkannya saat ini di level senior Liga 1 sejatinya merupakan buah dari konsistensi yang sudah ia asah sejak era kelompok umur tersebut.

Performa matang di level tertinggi sepak bola Indonesia ini memang bukanlah sebuah kebetulan, melainkan proses panjang yang dibangun sejak dini. Perjalanan kariernya bermula dari tanah kelahirannya di Pesisir Selatan melalui SSB Remaja Tarusan. Lewat wadah pembinaan lokal inilah bakat besarnya mulai terasah dan menarik perhatian.

Langkah Ikram semakin mantap saat melangkah ke jenjang yang lebih kompetitif bersama tim PSP Padang U-15. Tampil menjanjikan di bawah mistar, Ikram sukses mengantar timnya menjuarai Piala Soeratin Sumbar U-15, sekaligus memimpin rekan-rekannya mewakili Sumatra Barat ke putaran nasional. Di sinilah titik awal karier besar seorang Ikram dimulai.

Karier pemuda Pessel ini kian melejit saat menimba ilmu di PPLP Sumbar. Di bawah asuhan pelatih Dodi Irwan Leo, ia juga berhasil membawa timnya meraih posisi juara tiga Piala Soeratin Sumbar. Konsistensi serta kematangan bermain yang ia tunjukkan di level daerah akhirnya membuka pintu menuju panggung nasional.

Penampilan apik Ikram menarik perhatian pemandu bakat tim nasional. Ia mendapat panggilan membela Timnas U-16 di bawah arahan pelatih kepala Bima Sakti dan pelatih kiper Markus Horison. Pengalaman berlatih serta bertanding di level internasional tersebut menjadi titik balik penting yang menggembleng kualitas serta mental bertandingnya.

Sejak saat itu, karier Ikram terus menanjak secara konsisten. Ia dipercaya menjadi bagian penting dari skuad Timnas U-17 hingga Timnas U-19. Rekam jejak panjang di usia muda itulah yang membentuk ketenangan dan ketangguhan Ikram, hingga kini dipercaya menjadi tembok kokoh sekaligus juru selamat Semen Padang FC. (**)