Rangkuman Utama
  • Manajemen Semen Padang FC mengumumkan pelunasan tunggakan gaji pemain dan proses pembebasan sanksi FIFA melalui akun media sosial resmi klub.
  • Jurnalis di Sumatra Barat mengeluhkan sikap tertutup manajemen klub yang membatasi akses konfirmasi langsung dan pendalaman informasi.
  • Kebijakan komunikasi searah tersebut dinilai merusak kualitas serta profesionalisme jurnalisme karena menurunkan standar verifikasi berita sesuai pedoman Dewan Pers.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

Padang-Kembali manajemen Semen Padang FC mengumumkan informasi penting lewat media sosial milik klub. Info penting yang disampaikan manajemen soal pelunasan tunggakan gaji pemain musim lalu dan proses pembebasan dari sangsi FIFA dinilai telah menghebat kerja jurnalistik.

Informasi penting yang diimunkan di media sosial oleh manajemen ini juga disesalkan para wartawan di Sumbar. Para wartawan hanya bisa mengutip tanpa bisa mendalami materi informasi.

“Dengan sikap manajemen yang hanya memberi info di media sosial tanpa mau konfirmasi langsung membuat kerja kita terhalangi. Kita susah mendapat informasi lebih dalam, karena hanya mendapat info yang terbatas,” terang Adril Mahaputra wartawan senior asal Sumbar di Padang, Kamis (30/7/26).

Katanya, sebagai wartawan dia sudah mencoba menghubungi beberapa orang yang terlibat di tim, namun karena di Semen Padang ada aturan, di mana ada bagian-bagian yang bisa menjawab pertanyaan dari wartawan. Akibat dari situasi ini, media lokal hanya bisa mengutip info yang ada di media sosial, seperti pengumuman pelunasan gaji pemain musim lalu.

“Dengan sistem yang dilakukan manajemen ini, kami tentu bertanya, apa Semen Padang FC ini masih klub asal Sumbar. Soalnya, tertutupnya informasi dan hanya bisa dilihat di media sosial, tentu menghalangi kerja kami untuk mengali info lebih mendalam,” terangnya.

Dijelaskannya, manajemen yang tertutup dan wartawan yang hanya mengutip dari media sosial itu sudah merusak kualitas jurnalisme. Hal ini menurunkan standar verifikasi berita, menghilangkan ruang konfirmasi langsung, dan mengubah media massa menjadi sekadar pengeras suara humas klub tanpa kontrol independen.

“Dengan tertutupnya info ke media, kami kehilangan akurasi karena data dari media sosial tidak langsung divalidasi. Ruang tanya-jawab dan investigasi tertutup bagi publik. Selain itu, berita menjadi seragam dan minim sudut pandang mendalam,” terangnya.

Selain itu, tambah Adril, dengan mengabaikan kewajiban uji informasi sesuai pedoman Dewa Pers dan itu menurunkan profesionalisme wartawan karena pasrah pada bahan instan.

“Sikap manajemen ini juga mengaburkan batas antara karya jurnalistik dan konten pemasaran klub,” tambahnya. (sal)