- Rekrutmen siswa jenjang sekolah dasar (SD) menjadi tantangan utama penyelenggaraan sekolah rakyat karena banyak kuota belum terpenuhi akibat ketidaksiapan anak berpisah dari orang tua.
- Kementerian Sosial merancang kurikulum dan pendekatan khusus untuk siswa SD, termasuk memberikan kelonggaran bagi orang tua untuk berkunjung kapan saja meski berkonsep boarding school.
- Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan lingkungan sekolah rakyat harus bebas dari tiga hal utama, yaitu perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, dan intoleransi.
Padang – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengungkapkan rekrutmen siswa sekolah dasar (SD) masih menjadi tantangan utama penyelenggaraan sekolah rakyat. Banyak kuota jenjang SD di berbagai daerah belum terpenuhi karena faktor anak yang belum siap berpisah dari orang tua.
“Ya memang di usia tersebut yang seharusnya masih dengan orang tuanya dan lain sebagainya. Maka itu Bapak presiden meminta ke kita untuk memfasilitasi pertemuan antara orang tua dan siswa di sekolah rakyat,” kata Saifullah yang akrab disapa Gus Ipul, Senin 3 Agustus.
Gus Ipul menegaskan, mengaku sudah mempersiapkan kurikulum khusus bagi para siswa SD di sekolah rakyat. Meskipun sekolah rakyat memiliki konsep boarding school atau berasrama, orang tua siswa SD dipersilakan setiap saat jika ingin bertemu dengan anak-anaknya.
Sedangkan untuk jenjang SMP dan SMA, para siswa tetap melaksanakan kurikulum boarding school. “Memang untuk SD pendekatannya berbeda dengan SMP maupun SMA. Jadi ini semua sudah dirancang kurikulumnya,” jelasnya.
Lanjut dia, para guru di sekolah rakyat juga dipastikan memiliki pedoman lengkap mengajar siswa SD. Pihaknya menegaskan ada tiga hal yang tidak boleh terjadi di sekolah rakyat yakni perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, dan intoleransi. (**)




Tinggalkan Balasan