- Hingga dua hari menjelang penutupan pendaftaran Piala Soeratin Sumbar 2026, partisipasi kategori U-17 terancam sepi karena baru tiga tim yang mendaftar secara resmi.
- Minimnya minat pada kelompok U-17 berbanding terbalik dengan kategori U-13 dan U-15 yang justru membludak dengan masing-masing mencatatkan 11 tim pendaftar.
- Pemerhati sepak bola Sumatera Barat menilai fenomena ini sebagai bentuk pembiaran yang mengancam keberlanjutan sistem pembinaan pemain muda menuju jenjang profesional.
PADANG — Lampu kuning menyala terang bagi masa depan sepakbola Sumatera Barat. Memasuki dua hari jelang penutupan pendaftaran Piala Soeratin U-17 Sumbar 2026, antusiasme klub anggota PSSI Sumbar justru berada di titik terendah.
Turnamen usia muda paling bergengsi di Tanah Air ini terancam sepi kepesertaan akibat minimnya partisipasi klub lokal.
Berdasarkan data resmi panitia pelaksana hingga Senin (10/8/2026) pukul 12.00 WIB, baru tiga tim yang mengonfirmasi pendaftaran secara resmi, yakni Josal FC U-17, Seven FC U-17, dan ATHA Agam U-17.
Kondisi kontras justru terlihat pada kelompok umur yang lebih muda. Admin pendaftaran Piala Soeratin Sumbar 2026, Andi Pratomo, membeberkan bahwa minat untuk kategori U-13 dan U-15 membludak tinggi.
“Hingga saat ini kami baru menerima 3 peserta untuk U-17. Sedangkan kelompok U-13 dan U-15 pesertanya membludak, masing-masing sudah mendaftar 11 tim,” ungkap Andi saat ditemui di Padang, Senin (10/8/2026).

Fenomena minimnya pendaftaran di kelompok U-17 dari total sekitar 48 klub anggota PSSI Sumbar menuai keprihatinan mendalam dari pemerhati sepakbola Sumatera Barat, Rakhmatul Akbar. Pria yang akrab disapa Camaik ini secara tajam menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk pembiaran dan indikasi mati surinya sistem pembinaan berjenjang.
“Sekolah Sepakbola (SSB) selama ini sudah bekerja keras melahirkan pemain hingga usia 16 tahun. Di tingkat Usia 17 (U-17) inilah jembatan awal paling krusial bagi pemain untuk melanjutkan karir ke tingkat profesional, dan wadahnya adalah kompetisi resmi,” tegas Camaik.
Menurutnya, klub-klub pemilik lisensi dan otoritas regulasi di bawah PSSI seharusnya mengambil peran aktif untuk mewadahi para pemain muda tersebut.
“Jika klub-klub yang punya otoritas dan lisensi justru tidak ambil bagian, ini adalah tanda-tanda ‘kiamat’ bagi pembinaan sepakbola di Sumbar,” tambahnya.
Selama puluhan tahun, Piala Soeratin U-17 telah diakui sebagai tradisi vital serta panggung rekrutmen pemain muda berbakat dari pelosok kabupaten dan kota hingga tingkat provinsi.
Camaik menegaskan bahwa panggung ini bukan sekadar ajang adu gengsi antar-klub, melainkan pilar utama pembentukan mental dan kualitas teknis pesepakbola Ranah Minang sebelum melangkah ke kompetisi senior.
“Piala Soeratin U-17 tak hanya menjadi ajang bergengsi antar-klub usia muda, tetapi juga menjadi fondasi kuat pembinaan sepakbola berjenjang di Sumbar,” tutupnya. (sal)



Tinggalkan Balasan