NUSATIME.ID-Minggu pagi di kawasan Car Free Day (CFD) depan Kantor Gubernur Sumatera Barat selalu dipadati ribuan warga. Bagi sebagian orang, momen ini adalah waktunya melepas penat berolahraga, berburu kuliner, atau sekadar jalan santai bersama keluarga. Namun, di tengah hiruk-piruk kerumunan itu, Fadil dan adiknya, Nikko, melihat sesuatu yang berbeda: sebuah pasar potensial yang siap digarap.
Dengan senyum ramah dan keramahan yang hangat, dua kakak beradik ini berdiri menjajakan deretan mobil-mobilan Hot Wheels. Harganya bervariasi, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp150 ribu per unit. Siapa sangka, hobi memajang dan mengoleksi mainan itu disulap menjadi unit bisnis kecil yang riil di tepi jalan.
Fadil adalah seorang sarjana lulusan Universitas Andalas (Unand), sementara Nikko baru duduk di kelas 1 SMP. Perpaduan usia dan latar belakang ini melahirkan dinamika unik. Yang memikat perhatian publik bukan sekadar deretan mainan diecast yang dipajang, melainkan keberanian mental mereka untuk turun langsung menjadi tenaga pemasar bagi produknya sendiri.
Keberanian itu menarik perhatian Drs. H. Marlis, MM, C.Med., yang kebetulan melintas di lokasi. Mantan legislator Sumbar tersebut berhenti sejenak, mengamati interaksi kedua anak muda itu dengan calon pembeli, lalu melayangkan pujian.
“Mereka mampu melihat ribuan orang di CFD sebagai market yang potensial. Yang lebih menarik, mereka mau turun langsung menawarkan dan melayani pembeli dengan ceria. Terkadang anak muda bukan tidak mampu, tapi terbelenggu rasa gengsi. Padahal gengsi tidak menghasilkan omzet,” ujar Marlis tegas.

Menariknya, di balik kesederhanaan lapak Hot Wheels tersebut, mengalir darah dari tokoh-tokoh terpandang di Sumatera Barat. Fadil dan Nikko merupakan putra dari pasangan Fetris Oktrihardi dan Riliyanti Basril (mantan Wakil Ketua DPRD Pasaman Barat).
Mereka juga cucu dari dua tokoh besar Ranah Minang: H. Basril Djabar—tokoh pengusaha, mantan Ketua Kadin Sumbar, sekaligus pemilik Harian Singgalang—serta H. Baharudin, mantan Bupati Pasaman dan Pasaman Barat.
Latar belakang keluarga besar tak lantas membuat mereka sungkan menyapa calon pembeli atau malu memegang barang dagangan. Di tengah gempuran tren gengsi anak muda masa kini, keduanya justru memilih melatih naluri bisnis secara riil: belajar menangani negosiasi, menghadapi penolakan, menentukan harga pasar, hingga mengeksekusi transaksi.
Bagi Nikko yang masih belia, jalanan CFD menjadi laboratorium mental untuk mengasah kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi. Sementara bagi Fadil, langkah ini menjadi bukti bahwa selembar ijazah sarjana tidak seharusnya membatasi seseorang untuk memulai usaha dari hal-hal sederhana.
Kisah Fadil dan Nikko di Minggu pagi itu menyampaikan pesan lugas: bisnis besar tak selalu lahir dari gedung bertingkat atau modal miliaran rupiah. Ia kerap bermula dari hobi yang ditekuni, keberanian menepis malu, serta jeli melihat peluang di tengah keramaian. (*/ Marlis – CEO Alinia Group )



Tinggalkan Balasan