- Elektabilitas Dedi Mulyadi memimpin simulasi calon presiden 2029 versi survei SMRC dengan meraih 35 persen, mengungguli Prabowo Subianto (14,5 persen) dan Anies Baswedan (8,2 persen).
- Pegiat media sosial Jhon Sitorus menilai lonjakan elektabilitas tersebut membuka peluang Dedi Mulyadi untuk menjadi rival Prabowo Subianto pada Pilpres 2029.
- Rekam jejak panjang Dedi Mulyadi di Partai Golkar dinilai menjadi modal politik penting yang menentukan arah tawaran koalisi menjelang Pilpres 2029.
JAKARTA – Meningkatnya elektabilitas Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), dalam sejumlah survei politik mulai memunculkan berbagai spekulasi mengenai peta persaingan menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Salah satunya datang dari pegiat media sosial Jhon Sitorus yang menilai peluang KDM maju sebagai calon presiden tidak bisa dipandang sebelah mata.
Menurut Jhon, bukan hal yang mustahil apabila KDM nantinya berhadapan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto dalam kontestasi politik mendatang.
Ia menilai rekam jejak politik Dedi Mulyadi sebelum bergabung dengan Partai Gerindra menjadi salah satu modal yang membuka berbagai kemungkinan menuju Pilpres 2029.
“Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu besar di Golkar, bukan Gerindra,” ujar Jhon Sitorus, dikutip fajar.co.id, Kamis (30/7/2026).
Jhon mengingatkan bahwa perjalanan politik KDM dibangun melalui Partai Golkar jauh sebelum memutuskan bergabung dengan Gerindra.

“KDM bahkan sudah menjadi kader Golkar sejak 1999 dan pernah menjabat Ketua DPD Golkar Jawa Barat sebelum akhirnya pindah ke Gerindra,” katanya.
Berdasarkan rekam jejak tersebut, Jhon menilai peluang KDM menjadi rival Prabowo pada Pilpres 2029 tetap terbuka lebar.
“Kalau nanti KDM berhadapan dengan Pak Prabowo pada Pilpres 2029, itu bukan sesuatu yang mustahil,” tegasnya.
Ia menilai perjalanan politik KDM bersama Partai Golkar merupakan bagian penting yang tidak dapat dilepaskan dari posisinya saat ini.
“Rekam jejak KDM bersama Golkar tidak bisa dilupakan begitu saja,” ujarnya.
Jhon kembali menegaskan bahwa fondasi politik Dedi Mulyadi dibangun ketika masih berada di bawah bendera Partai Golkar.
“KDM besar saat bersama Golkar, bukan ketika sudah bergabung dengan Gerindra,” tambahnya.
Menurut Jhon, arah politik Dedi Mulyadi menjelang Pilpres 2029 nantinya sangat bergantung pada dinamika koalisi dan keputusan partai-partai politik.
“Pada akhirnya ini soal partai mana yang memberikan tawaran politik paling menarik untuk KDM,” pungkasnya.
Pernyataan Jhon Sitorus muncul setelah hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menempatkan Dedi Mulyadi sebagai tokoh dengan elektabilitas tertinggi dalam simulasi calon presiden 2029.
Dalam survei tersebut, KDM memperoleh dukungan 35 persen, unggul cukup jauh dibanding Presiden Prabowo Subianto yang berada di posisi kedua dengan 14,5 persen.
Di bawah keduanya, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperoleh 8,2 persen, disusul Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, serta Mahfud MD 4 persen.
Sementara itu, Ketua DPR RI Puan Maharani mencatat elektabilitas 1,3 persen, diikuti Sherly Tjoanda 1,2 persen, Purbaya Yudhi Sadewa 1,1 persen, dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh 1 persen.
SMRC menjelaskan survei tersebut dilaksanakan pada 5–19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 responden yang mewakili warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih.
Sebanyak 605 responden diwawancarai melalui sambungan telepon menggunakan metode double sampling, sedangkan 144 responden lainnya diwawancarai secara langsung menggunakan metode stratified multistage random sampling.
Seluruh responden dipilih secara acak. Survei tersebut memiliki margin of error sekitar ±3,7 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Meski demikian, hasil survei tersebut merupakan gambaran preferensi publik pada saat pengumpulan data dan bukan merupakan prediksi pasti hasil Pilpres 2029, mengingat dinamika politik dan pilihan pemilih masih dapat berubah hingga waktu pemilihan berlangsung. (fix)



Tinggalkan Balasan