- Anggota Kongres AS Jamie Raskin meminta Presiden FIFA Gianni Infantino menyerahkan dokumen resmi dan menjalani wawancara terkait dugaan pemberian fasilitas serta praktik quid pro quo dengan Donald Trump.
- Sorotan tersebut dipicu oleh dugaan intervensi politik dalam pembatalan sanksi kartu merah pemain AS Folarin Balogun, penghentian kasus korupsi pejabat FIFA oleh Departemen Kehakiman AS, hingga lonjakan harga tiket Piala Dunia 2026.
- Presiden FIFA Gianni Infantino membantah tuduhan intervensi politik melalui unggahan media sosial, sementara Federasi Sepak Bola Norwegia berencana mengajukan pengaduan resmi ke komite etik FIFA.
JAKARTA – Presiden Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA), Gianni Infantino, diminta hadir di Kongres Amerika Serikat (AS) setelah hubungan dekatnya dengan Presiden Donald Trump menjadi sasaran penyelidikan. Permintaan itu diajukan Jamie Raskin, anggota Partai Demokrat sekaligus petinggi Komite Kehakiman DPR AS, melalui surat resmi yang dikirim pada Minggu (26/7/2026).
Dalam surat tersebut, Raskin meminta FIFA menyerahkan berbagai dokumen dan komunikasi yang berkaitan dengan hadiah, pembayaran, maupun manfaat yang diduga diberikan kepada Trump, keluarganya, Trump Organization, serta orang-orang di lingkaran pemerintahannya.
Selain itu, Raskin juga meminta daftar pengunjung kantor FIFA di Trump Tower, New York, serta kantor FIFA di Miami. Ia turut meminta Gianni Infantino menjalani wawancara resmi yang akan ditranskripsikan sebagai bagian dari penyelidikan.
Meski demikian, surat tersebut belum merupakan panggilan paksa (subpoena). Sebagai anggota Partai Demokrat yang berada di posisi minoritas di DPR AS, Raskin tidak memiliki kewenangan memaksa Infantino hadir tanpa dukungan anggota Partai Republik.
FIFA diberi tenggat hingga 9 Agustus 2026 untuk menyerahkan dokumen yang diminta sekaligus menjadwalkan wawancara.

Kedekatan dengan Trump Jadi Sorotan
Hubungan Gianni Infantino dan Donald Trump menjadi perhatian sejak menjelang Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Salah satu momen yang disorot adalah ketika Trump menerima penghargaan perdana “FIFA Peace Prize” pada acara pengundian Piala Dunia di Washington pada Desember 2025. Penghargaan tersebut diberikan kepada individu yang dinilai mengambil tindakan luar biasa bagi perdamaian dan persatuan dunia.
Kontroversi kembali mencuat ketika Trump mengakui pernah menghubungi Infantino untuk menanyakan kemungkinan banding atas kartu merah yang diterima penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menjelang laga babak 16 besar melawan Belgia.
Menurut surat Raskin, Trump beberapa kali melobi FIFA agar meninjau ulang hukuman tersebut. FIFA kemudian membatalkan sanksi sehingga Balogun dapat tampil pada pertandingan tersebut. Keputusan itu memicu kritik dari sejumlah tim nasional dan asosiasi sepak bola di berbagai negara.
Infantino membantah adanya intervensi politik. Ia menegaskan keputusan mengenai Balogun sepenuhnya diambil oleh Komite Disiplin FIFA yang bekerja secara independen.
Sorotan terhadap keduanya juga muncul saat seremoni penyerahan trofi Piala Dunia. Setelah Spanyol mengalahkan Argentina di final, Trump mendampingi Infantino bersama para pemimpin Kanada dan Meksiko. Saat memasuki lapangan Stadion New York New Jersey, keduanya disambut sorakan cemoohan dari sebagian penonton.
Soroti Dugaan “Quid Pro Quo”
Dalam suratnya, Raskin turut menyinggung keputusan Departemen Kehakiman AS yang menghentikan dakwaan terhadap sejumlah terdakwa dalam kasus korupsi sepak bola internasional, termasuk perkara yang pada 2015 menjerat lebih dari 20 pejabat tinggi FIFA dan eksekutif pemasaran olahraga.
Raskin menilai Infantino gagal membawa perubahan terhadap budaya transparansi di tubuh FIFA. Ia menuding mekanisme pengawasan etik organisasi justru melemah di bawah kepemimpinan Infantino.
Tak hanya itu, Raskin juga mengkritik kebijakan penjualan tiket Piala Dunia menggunakan sistem harga dinamis yang kini sedang diselidiki sejumlah jaksa agung negara bagian di AS karena diduga menyebabkan lonjakan harga dan merugikan konsumen.
Dalam surat tersebut, Raskin bahkan menuding adanya praktik quid pro quo, yakni hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara FIFA dan pemerintahan Trump.
Menurutnya, kedekatan tersebut membuat FIFA merasa leluasa menerapkan sejumlah kebijakan, termasuk sistem penjualan tiket yang dinilai merugikan konsumen.
Infantino Balas Lewat Instagram
Hingga kini FIFA belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan dokumen dari Kongres AS.
Namun pada Senin (27/7/2026), Gianni Infantino mengunggah rangkaian 15 pesan melalui akun Instagram pribadinya yang berisi pembelaan terhadap kepemimpinannya.
Ia menuding para pengkritiknya menyebarkan kebencian dan narasi palsu, sembari menegaskan bahwa penyelenggaraan Piala Dunia merupakan sebuah keberhasilan.
“Saat kalian memecah belah, kami menyatukan,” kata Infantino.
Ia juga menilai para pengkritiknya terlalu fokus mencari sisi negatif hingga mengabaikan kebersamaan yang tercipta selama turnamen.
“Nol insiden, nol permusuhan, nol kekerasan, hanya kegembiraan, emosi, kebahagiaan, persatuan, dan kebersamaan,” ujarnya.
Infantino turut menyinggung Haiti, negara yang masuk daftar pembatasan masuk pemerintahan Trump. Menurutnya, sepak bola telah membawa Haiti tampil di panggung dunia meski negara tersebut sulit atau enggan dikunjungi banyak orang.
Ia juga membahas polemik disiplin pemain tanpa menyebut nama Folarin Balogun. Menurutnya, perubahan maupun penangguhan hukuman pemain merupakan praktik yang lazim diterapkan di berbagai liga besar dunia.
Menutup pernyataannya, Infantino mengajak para pengkritiknya untuk meluangkan waktu merenung, berdoa, atau menyaksikan pertandingan sepak bola agar dapat merasakan emosi dan kebersamaan yang tercipta di tengah para suporter.
Meski lebih dari 200 anggota FIFA telah menyatakan dukungan kepada Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret mendatang, Federasi Sepak Bola Norwegia berencana mengajukan pengaduan resmi kepada penyelidik etik FIFA terkait dugaan peran Donald Trump dalam pembatalan hukuman Folarin Balogun. (fix)



Tinggalkan Balasan