Rangkuman Utama
  • DPN ASANTARA menggelar diskusi insan pers di Padang guna mendorong peningkatan kapasitas jurnalis melalui penguasaan wawasan, pembacaan situasi, dan perluasan jejaring relasi.
  • Ketua Dewan Pengawas DPN ASANTARA Mufti Syarfie memaparkan sembilan prinsip jurnalis hebat yang menekankan pentingnya silaturahmi, independensi, serta riset mendalam sebelum melakukan wawancara.
  • Ketua Umum DPN ASANTARA Marlis menegaskan komitmen organisasi untuk mencetak insan pers yang berintegritas dan profesional, dengan tetap mengutamakan akurasi, etika, dan kepentingan publik di era digital.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PADANG, 15 Agustus 2026  — Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Media Online Nusantara (DPN ASANTARA) kembali menggelar diskusi dan silaturahmi insan pers pada Sabtu sore, 15 Agustus 2026, bertempat di Hotel Rangkayo Basa, Padang.

392940

Diskusi menghadirkan Drs. H. Mufti Syarfie, MM, Ketua Dewan Pengawas DPN ASANTARA, sebagai narasumber. Mufti Syarfie merupakan tokoh pers Sumatera Barat yang pernah menjabat Ketua PWI Sumatera Barat dan Ketua KPU Sumatera Barat, serta saat ini menjabat Ketua BAZNAS Kota Padang.

Dalam pemaparannya, Mufti Syarfie menekankan pentingnya membangun kualitas jurnalis yang tidak hanya piawai menulis dan mencari berita, tetapi juga memiliki pengetahuan, jaringan, kemampuan membaca situasi, serta kematangan dalam menjaga hubungan dengan berbagai pihak.

“Kekuatan wartawan adalah silaturahmi. Sayangnya, kekuatan ini justru banyak yang tidak disadari oleh wartawan itu sendiri,” ujar Mufti Syarfie.

Menurutnya, menjaga relasi merupakan salah satu modal terbesar seorang wartawan. Relasi yang luas dan dikelola dengan baik akan membuka akses informasi, memperkaya perspektif, serta membantu wartawan memahami suatu persoalan secara lebih komprehensif.

9 Kunci Menjadi Jurnalis HEBAT

Dalam diskusi tersebut, Mufti Syarfie memaparkan sejumlah prinsip yang menurutnya penting dimiliki seorang jurnalis: Menjaga relasi dan membangun silaturahmi dengan berbagai kalangan. Mengetahui dan mengelola pemangku kepentingan yang berkaitan dengan isu pemberitaan. Memiliki positioning yang jelas sebagai seorang jurnalis. Terus menambah ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Memposisikan lawan sebagai teman, tanpa kehilangan sikap kritis dan independensi. Memiliki kemampuan manajemen dilema dalam menghadapi berbagai pilihan dan kepentingan. Menjadikan jurnalistik sebagai profesi seumur hidup. Memiliki sikap terbuka terhadap informasi, kritik, dan perbedaan pandangan.”Tahu dulu sebelum bertanya” dengan melakukan riset dan memahami persoalan sebelum melakukan wawancara.

Mufti Syarfie menegaskan bahwa prinsip “tahu dulu sebelum bertanya” sangat penting. Wartawan yang menguasai persoalan akan mampu mengajukan pertanyaan yang lebih tajam, kritis, dan substansial.

Marlis: Wartawan Harus Punya Kapasitas, Integritas dan Jaringan

Sementara itu, Ketua Umum DPN ASANTARA, Drs. H. Marlis, MM, C.Med, menyambut positif berbagai pemikiran yang disampaikan Mufti Syarfie. Menurut Marlis, pengalaman panjang Mufti Syarfie di dunia pers, organisasi, penyelenggara pemilu hingga kegiatan sosial merupakan pembelajaran berharga bagi anggota ASANTARA.

“Pesan Pak Mufti sangat sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Wartawan hebat bukan hanya wartawan yang pandai menulis, tetapi wartawan yang memiliki kapasitas, integritas, jaringan yang luas dan terus belajar. Silaturahmi adalah investasi besar bagi seorang jurnalis,” ujar Marlis.

Marlis mengatakan, DPN ASANTARA ingin membangun organisasi yang tidak sekadar menjadi tempat berhimpunnya perusahaan media online, tetapi juga menjadi ruang belajar dan peningkatan kualitas sumber daya manusia pers.

Menurutnya, perkembangan media digital yang sangat cepat menuntut wartawan untuk terus meningkatkan kompetensi dan pengetahuan. Kecepatan menyampaikan berita tidak boleh mengalahkan prinsip akurasi, verifikasi, keberimbangan, etika dan kepentingan publik.

“Kita ingin wartawan yang tergabung dalam ASANTARA memiliki kelas dan positioning yang jelas. Jangan berhenti belajar, perbanyak membaca, perluas pergaulan dan kuasai persoalan sebelum bertanya. Dengan begitu, wartawan tidak hanya menjadi pencatat peristiwa, tetapi mampu memahami dan menjelaskan persoalan kepada publik,” tegas Marlis.

Marlis juga mengingatkan bahwa luasnya jaringan dan kedekatan dengan narasumber tidak boleh menghilangkan independensi wartawan.

“Bertemanlah dengan siapa saja, termasuk dengan orang yang berbeda pandangan dengan kita. Tetapi ketika menjalankan tugas jurnalistik, kepentingan publik, profesionalitas dan independensi tetap harus menjadi pegangan,” katanya.

ASANTARA Jadikan Diskusi sebagai Agenda Penguatan Jurnalis

DPN ASANTARA memandang forum diskusi seperti ini penting untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari konsolidasi organisasi sekaligus peningkatan kapasitas wartawan dan pengelola media online.

ASANTARA berharap anggotanya tidak hanya memiliki media, tetapi juga mampu membangun media yang profesional, kredibel, kritis, berintegritas dan dipercaya masyarakat.

Diskusi sore tersebut sekaligus menegaskan satu pesan penting bagi insan pers: jurnalis hebat lahir dari ilmu yang terus bertambah, relasi yang terus dijaga, pengalaman yang terus diasah, serta integritas yang tidak pernah diperdagangkan.

Padang, 15 Agustus 2026
Dewan Pimpinan Nasional
Asosiasi Media Online Nusantara (DPN ASANTARA)