PADANG, NUSATIME.ID — Antusiasme luar biasa mewarnai pelaksanaan Liga TopSkor (LTS) Sumatra Barat musim ini. Kendati sebagian peserta telah dimekarkan ke zona Pariaman, jumlah klub dan Sekolah Sepak Bola (SSB) yang mendaftar di Zona Padang ternyata masih membeludak dan melampaui kapasitas ideal sebuah kompetisi reguler.
Menyikapi lonjakan peserta tersebut, panitia penyelenggara mengambil langkah taktis demi menjaga kualitas pembinaan. Ketua Panitia LTS Sumbar, Renol “Palek” Fadli, menyatakan bahwa panitia berencana membagi kompetisi ke dalam dua grup untuk masing-masing kelompok umur (KU) di Zona Padang.
“Jumlah peserta untuk Zona Padang masih cukup banyak. Agar seluruh pertandingan berjalan efektif dan sesuai dengan regulasi pembinaan usia dini, panitia berencana membagi dua grup di setiap kelompok umur,” ujar Renol Palek Fadli saat dikonfirmasi, Rabu (28/10/2026).
Berdasarkan data panitia, rincian peserta di Zona Padang saat ini meliputi, U-10, 20 tim, U-12, 33 tim, U-15, 38 tim, U-16, 35 tim
Katanya, pembagian grup yang dilakukan oleh panitia LTS Sumbar bukan sekadar solusi teknis atas membludaknya peserta, melainkan sebuah keharusan mendasar dalam ilmu sport science dan kurikulum pembinaan sepak bola modern. Di usia pertumbuhan, seorang pemain muda tidak cukup hanya berlatih (training), tetapi mutlak memerlukan kompetisi kompetitif (match exposure) dengan takaran yang pas.

Menurut standar kurikulum pembinaan usia muda berstandar internasional dan panduan Long-Term Player Development (LTPD), berikut adalah proyeksi ideal jumlah pertandingan yang harus dilalui pemain dalam satu tahun kalender guna membentuk mental, visi, dan kematangan teknik yang handal, U-10 dan U-12 yang lebih fokus pada fun football dengan pengenalan 7 v 7 dan 8 v 8, kebutuhan Ideal, 25 – 35 pertandingan resmi per tahun. Pada fase golden age ini, anak-anak membutuhkan sentuhan bola yang masif (high ball-touches). Format pertandingan yang ideal menggunakan lapangan yang lebih kecil dengan durasi bermain yang disesuaikan (misalnya 2×15 atau 2×20 menit). Dengan jumlah laga di kisaran 30 pertandingan per musim, anak-anak terbiasa mengambil keputusan cepat di ruang sempit tanpa tekanan psikologis yang berlebihan, sekaligus menjaga esensi bermain gembira (fun).
Untuk U-14 dan U-16, transisi sepak bola 11 lawan 11, kebutuhan ideal, 35 – 45 pertandingan kompetitif per tahun.
Memasuki usia remaja, intensitas fisik, taktik tim, dan daya tahan mulai dibangun secara serius. Pemain di level U-14 dan U-16 memerlukan kalender kompetisi yang stabil sepanjang tahun (panjangnya kompetisi), bukan sekadar turnamen sistem gugur yang selesai dalam 2-3 hari.
Bermain 35 hingga 45 laga setahun melatih ketahanan fisik pemain, pemulihan kebugaran pasca-laga (recovery), serta konsistensi mental di bawah tekanan atmosfer kompetisi resmi. Kurang dari jumlah tersebut dikhawatirkan membuat progres pematangan taktik pemain muda Indonesia tertinggal dari standar pemain di level Asia maupun internasional.
Langkah berani panitia LTS Sumbar membagi grup di Zona Padang dinilai sejalan dengan visi besar melahirkan bibit-bibit unggul pesepakbola dariRanah Minang. Dengan format dua grup, setiap tim tetap akan mendapatkan kuota pertandingan yang sehat dan terukur sepanjang musim, sehingga misi utama pembinaan yakni memberikan jam terbang yang adil dan berkualitas bagi anak-anak dapat tercapai secara optimal. (**)



Tinggalkan Balasan