Oleh: Faisal Budiman, S.H.
(Wartawan Utama / Pemegang Number One Press Card)
Bagi pencinta sepak bola nasional, nama Semen Padang FC selalu menyisakan aura tersendiri. Di era kejayaannya, bertandang ke markas Kabau Sirah bukan sekadar sebuah agenda pertandingan tandang, melainkan sebuah ujian mental dan fisik yang maha berat bagi tim tamu manapun. Stadion Haji Agus Salim di jantung kota Padang dahulu adalah sebuah benteng yang teramat “angker”.
Tim-tim besar langganan Liga Indonesia kerap datang dengan kecemasan, sadar betul bahwa membawa pulang satu poin saja sudah merupakan sebuah pencapaian luar biasa. Tak jarang, lawan-lawan tangguh harus menerapkan taktik bertahan total (parkir bus) demi menghindari gelombang serangan bergelora yang dimotori oleh dukungan fanatik suporter di ranah Minang.
Namun, atmosfer magis dan keangkeran tersebut tampaknya belum sepenuhnya berpindah ke perantauan pada kompetisi Pegadaian Championship musim ini.
Berkandang sementara di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Kabau Sirah tampak masih mencari bentuk terbaiknya untuk mendefinisikan ulang makna sebuah “rumah”. Dari tiga laga kandang awal yang telah dilakoni di Bekasi, tuah kemenangan belum juga berpihak. Semen Padang harus puas mengantongi dua hasil imbang, masing-masing saat menghadapi PSIS Semarang dan PSMS Medan serta harus menelan satu pil pahit kekalahan atas PSPS Pekanbaru.

Hilangnya keangkeran kandang ini tentu menjadi Pekerjaan Rumah (PR) besar. Ada faktor psikologis dan sosiologis yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Bermain ribuan kilometer dari kampung halaman, di hadapan suporter yang tidak sepadat dan sesemarak di Padang, tentu mereduksi magis dukungan langsung yang selama ini menjadi pemain ke-12 bagi Kabau Sirah. Di Agus Salim, tekanan mental tidak hanya datang dari sebelas pemain di atas rumput hijau, tetapi juga dari gemuruh tribun yang bergemar tiada henti. Di Bekasi, atmosfir “teror” positif itu belum sepenuhnya terbangun.
Kendati demikian, musim masih panjang dan napas kompetisi masih membara. Pada laga kandang ke-8 yang dijadwalkan pada 30 Oktober mendatang, Semen Padang akan kembali bertindak sebagai tuan rumah menjamu Sumsel United.
Pertandingan ini bukan sekadar perebutan tiga angka di papan klasemen, melainkan momentum krusial untuk membuktikan bahwa mentalitas bertarung Kabau Sirah tidak luntur hanya karena urusan geografis. Mampukah anak asuh pelatih membalikkan keadaan dan mulai merajut kembali keangkeran kandang, meski stadion tempat mereka bernaung kini berada di tanah rantau?
Menarik untuk dinantikan. Sebab, di pundak para pemain dan jajaran manajemen tersimpan tanggung jawab besar untuk menjaga marwah dan sejarah panjang klub kebanggaan urang awak ini. Kebangkitan harus dimulai sekarang, dari Stadion Patriot Bekasi, demi mengembalikan kehormatan Kabau Sirah di kancah sepak bola nasional. (**)



Tinggalkan Balasan