PADANG PARIAMAN, NUSATIME.ID— Rumah milik Yuniar, wartawan Harian Singgalang di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, disatroni kawanan pencuri pada Rabu (21/10/2026) dini hari. Selain merugi secara materiil, pencurian ini memukul telak kerja-kerja jurnalistik korban akibat raibnya tiga unit hard disk eksternal yang memuat arsip, dokumen, serta rekam jejak liputan penting bertahun-tahun.
Peristiwa ini menambah panjang daftar aksi kriminalitas yang meresahkan warga di lingkungan tersebut, di tengah lambannya penanganan aparat penegak hukum.
Berdasarkan penuturan korban, pencurian diduga terjadi sekitar pukul 02.30 WIB ketika ia baru saja memejamkan mata usai merampungkan tugas-tugas penulisan berita. Pelaku diduga melancarkan aksinya dengan cara merusak dinding kamar mandi.
“Pelaku diduga masuk ke rumah dengan membuka dua papan dinding kamar mandi,” ujar Yuniar saat dikonfirmasi, Minggu (25/10/2026).
Dalam insiden tersebut, sejumlah barang berharga raib digondol pelaku, meliputi satu unit laptop, tiga unit telepon genggam (Samsung Galaxy A12, Oppo, dan Xiaomi Redmi abu-abu), serta sebuah tas laptop Eiger hitam. Total kerugian materiil ditaksir mencapai Rp10 juta.

Namun, bagi seorang jurnalis, kerugian finansial bukan menjadi momok utama. Yuniar menegaskan bahwa tiga unit hard disk eksternal berkapasitas masing-masing 1 terabita yang hampir penuh data, menyimpan nilai yang jauh melampaui angka kerugian material.
“Yang paling saya khawatirkan justru data-data di dalam perangkat tersebut, karena nilainya tidak bisa diukur dengan uang,” ungkapnya dengan nada cemas.
Ketiga perangkat tersebut menyimpan arsip tulisan, dokumen riset, serta rekam jejak liputan penting yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun dalam menjalankan profesi jurnalistik. Sebagian besar berkas tersebut tidak memiliki cadangan (backup) dan sulit, bahkan mustahil, untuk dipulihkan. Kehilangan ini tidak hanya berdampak secara personal, tetapi juga menjadi pukulan bagi dokumentasi karya jurnalistik di daerah.
Pasca-kejadian, korban segera melapor ke Polsek Batang Anai. Personel Reskrim Polsek Batang Anai terpantau telah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) pada Jumat (23/10/2026) malam.
Kendati demikian, hingga berita ini diturunkan pada Minggu (25/10/2026), Yuniar mengaku belum menerima kejelasan maupun perkembangan signifikan dari pihak kepolisian terkait penyelidikan kasus tersebut.
“Sampai sekarang belum ada kabar beritanya,” keluhnya.
Insiden yang menimpa rumah wartawan Harian Singgalang ini ternyata bukan kasus yang berdiri sendiri. Berdasarkan penelusuran di lapangan, teror pencurian telah melanda kawasan tempat tinggal korban secara beruntun dalam sepekan terakhir.
Sebelum rumah Yuniar dibobol, seorang warga setempat kehilangan aki mobil yang terparkir, mesin pompa air, hingga drum penampungan. Sehari pascakasus di rumah korban, gelombang pencurian berlanjut dengan raibnya satu unit televisi serta dua unit aki mobil milik tetangga lainnya.
Bahkan, catatan kriminal di lingkungan tersebut menunjukkan tren peningkatan. Sekitar dua bulan sebelumnya, warga juga diresahkan oleh hilangnya sepeda motor dan telepon genggam.
Ketakutan warga sempat memuncak ketika pada Kamis (22/10/2026) malam, seorang warga melihat gerak-gerik seseorang yang diduga hendak menyatroni rumah lain, sebelum akhirnya kabur lantaran terhalang teralis pengaman jendela.
Rentetan aksi kejahatan yang kian meresahkan ini memicu desakan kuat dari masyarakat setempat. Warga berharap jajaran Polsek Batang Anai dan Polres Padang Pariaman tidak bersikap pasif, melainkan segera mengusut tuntas sindikat pencurian yang meresahkan ini demi memulihkan rasa aman di tengah masyarakat—terutama memberikan perlindungan memadai bagi kerja profesi wartawan yang rentan terhadap ancaman kehilangan dokumen vital negara maupun publik. (**)



Tinggalkan Balasan