- Pembangunan GOR H. Agus Salim terindikasi hanya difokuskan untuk satu cabang olahraga, sehingga berpotensi menghilangkan fungsinya sebagai ruang publik multifungsi dan wadah kegiatan masyarakat Padang.
- Kawasan GOR H. Agus Salim memiliki rekam jejak sejarah panjang serta fungsi vital yang tidak hanya untuk olahraga, tetapi juga sebagai pusat ekonomi kreatif dan lokasi evakuasi bencana tsunami.
- Pemerintah didesak menghentikan sementara proyek pembangunan GOR tersebut hingga ada kepastian bahwa fasilitas umum yang dibiayai anggaran negara ini tidak didominasi oleh satu kelompok atau cabang olahraga tertentu.
Oleh Labai Korok
Pembangunan Gedung Gor H Agus Salim yang baru sudah ada indikasi diarahkan pada satu cabang olah raga. Nanti tempat ini hanya khusus untuk kandang klub sepak bola saja. Sedangkan cabang olah raga yang lain tidak akan bisa dilaksanakan disini. Apalagi untuk acara hiburan masyarakat Kota Padang atau kampanye akbar Pilkada tidak akan dapat tempat.
Pemangku kepentingan pembangunan atau Pemerintah Propinsi/Pusat tentang Gor H Agus Salim yang baru ini, perlu memahami dan perlu paham apa itu gor dan bagaimana sejarah panjang Gor H Agus Salim itu ada di Rimbo Kaluang, Padang tersebut.
Perlu penulis jelaskan pada pembaca, bagi warga Kota Padang, Gelanggang Olah Raga (GOR) Haji Agus Salim bukan sekadar kompleks olahraga saja. Tempat ini adalah saksi bisu pasang surutnya prestasi olahraga, pusat perputaran ekonomi kreatif, hingga ruang publik tempat masyarakat melepas penat, serta tempat bermainnya anak kemenakan urang Padang.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa gor kebanggaan masyarakat Minangkabau ini berdiri di atas tanah yang sarat akan sejarah perjuangan urang padang dengan belanda, jepang terakhir PKI, lalu diambil oleh negara.

Sebelum menjadi pusat olahraga, kawasan yang kini kita kenal sebagai GOR Haji Agus Salim merupakan bagian dari wilayah penerbangan. Pada masa kolonial Belanda hingga awal kemerdekaan, kawasan ini terhubung dengan aktivitas kedirgantaraan karena kedekatannya dengan pangkalan udara (sekarang Bandara Tabing).
Seiring dengan perkembangan tata kota Padang pada era 1970-an, pemerintah daerah melihat perlunya sebuah fasilitas olahraga yang representatif untuk menyatukan pemuda dan memajukan prestasi olahraga di Sumatra Barat.
Titik balik pembangunan kawasan ini terjadi pada pertengahan dekade 1970-an. Sumatra Barat ditunjuk sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional IX pada tahun 1976. Momentum besar ini dimanfaatkan oleh pemerintah daerah, di bawah kepemimpinan Gubernur Ir. Azwar Anas (yang kemudian menjabat pada periode berikutnya, namun fondasinya telah dirintis sebelumnya), untuk membangun sebuah megaproyek pusat kegiatan masyarakat dan olahraga.
Jadi sangat jelaa bahwa gor itu sesuai dengan pengertiaanya selama ini, GOR adalah singkatan dari Gelanggang Olahraga (atau Gelanggang Olahraga Remaja), yaitu bangunan atau fasilitas tertutup dan terbuka yang dirancang khusus untuk kegiatan fisik, latihan, dan pertandingan olahraga.
Nah dengan adanya Sumbar rawan tsunami dan bencana maka sesuai dengan Perda yang ada, gor ini disamping tempat olah raga dan tempat kegembiraan warga juga dilengkapi dengan bangunan tempat evakuasi tsunami.
Menurur penulis sudah saatnya pembangunan Gor H Agus Salim ini dihentikan dahulu, sampai ada kepastian Gor itu tidal hanya milik satu cabang olah raga dikarenakan yang membawa anggaran negara dari pajak rakyat juga berstatus pengurus olah raga tertentu. (**)



Tinggalkan Balasan