- Nilai adab dan kemampuan menghargai sesama dinilai jauh lebih esensial dibandingkan pencapaian ilmu, gelar, jabatan, maupun kekayaan materiil.
- Kepintaran, kekuasaan, dan kekayaan yang tidak diimbangi dengan adab serta empati berisiko memicu kesombongan, keangkuhan, dan tindakan sewenang-wenang.
- Ukuran kemuliaan dan kehebatan seseorang tercermin dari kerendahan hati serta kemampuannya membuat orang lain merasa dihargai tanpa memandang status sosial.
Oleh : Drs.H.Marlis,MM, C.Med ( CEO ALINIA GROUP )
NUSATIME.ID – Kita hidup di zaman ketika ilmu, gelar, jabatan, dan kekayaan sering dijadikan ukuran keberhasilan. Namun ada satu hal yang nilainya jauh melampaui semuanya: adab dan kemampuan menghargai sesama.
Orang yang kurang ilmu masih bisa belajar. Orang yang melakukan kesalahan masih bisa memperbaiki diri. Bahkan kegagalan pun masih dapat menjadi jalan menuju keberhasilan. Tetapi ketika seseorang kehilangan rasa hormat, merendahkan orang lain, merasa paling benar, dan tidak lagi memiliki empati, persoalannya menjadi jauh lebih dalam.
Sebab kepintaran tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, kekuasaan tanpa adab dapat melahirkan kesewenang-wenangan, dan kekayaan tanpa adab hanya akan melahirkan keangkuhan.
Kita tidak harus selalu sepakat dengan orang lain untuk tetap menghormatinya. Kita juga tidak perlu merendahkan seseorang hanya karena pendidikan, pekerjaan, ekonomi, atau kedudukannya berada di bawah kita. Hari ini mungkin kita berada di atas, tetapi kehidupan selalu berputar. Tidak ada jabatan yang abadi dan tidak ada kesuksesan yang selamanya berada dalam genggaman.

Orang hebat bukanlah orang yang membuat orang lain merasa kecil di hadapannya. Orang hebat adalah mereka yang tetap mampu membuat orang lain merasa dihargai, bahkan ketika dirinya memiliki kesempatan untuk merasa lebih tinggi.
Karena pada akhirnya, manusia mungkin lupa seberapa tinggi jabatan kita, seberapa banyak harta kita, atau sederet gelar yang pernah kita miliki. Tetapi mereka akan lama mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.
Maka semakin tinggi ilmu kita, semakin rendah hati seharusnya kita. Semakin tinggi jabatan kita, semakin santun cara kita memperlakukan manusia.
Ilmu membuat seseorang menjadi pintar, tetapi adablah yang membuat seseorang menjadi mulia. (*/ Marlis – CEO Alinia Group )



Tinggalkan Balasan