- Klub-klub anggota PSSI asal Sumatra Barat dinilai pasif dan absen dalam Piala Soeratin, sehingga panggung kompetisi usia muda justru didominasi oleh Sekolah Sepak Bola (SSB).
- Absennya klub-klub resmi tersebut mengancam proses pembinaan karakter, mental, dan jalur karier profesional para pesepak bola muda di Ranah Minang.
- Pemerintah daerah dan PSSI Sumbar didesak untuk segera mengevaluasi kepengurusan klub yang vakum guna membenahi sistem pembinaan sepak bola daerah.
Oleh: Faisal Budiman
Wartawan Utama dan Pemegang Number One Press Card
PADANG — Ada sinyal mengkhawatirkan yang tengah berembus dari lapangan hijau Sumatra Barat. Agenda tahunan induk organisasi sepak bola Tanah Air, seperti Piala Soeratin, terus bergulir. Namun, entah mengapa, klub-klub anggota PSSI asal Ranah Minang justru terkesan enggan dan tak bergairah untuk ambil bagian.
Data panitia pelaksana Piala Soeratin Sumbar memperlihatkan ketimpangan yang janggal: panggung kompetisi usia muda ini justru lebih banyak disesaki oleh Sekolah Sepak Bola (SSB). Sementara itu, nama-nama besar yang memiliki sejarah panjang—seperti PSP Padang, PSPP Padang Panjang, PSKB Bukittinggi, Gasliko Limapuluh Kota, Persepar Padang Pariaman, hingga Persikopa Kota Pariaman—justru ‘menghilang’ dari daftar peserta.
Klub-klub anggota PSSI di daerah seharusnya malu pada SSB. Selama ini, SSB berjuang mandiri—bahkan tak jarang orang tua murid dan pengurus harus berswadaya serta mencari dana sendiri—demi mengirim anak-anak bertanding. Sangat ironis ketika klub-klub resmi yang memiliki legitimasi, jaringan, dan sokongan akses justru ‘jalan di tempat’ dan memilih absen dari panggung pembinaan.
Secara esensial, kompetisi usia muda diciptakan bukan sekadar untuk mencari siapa yang menang atau memboyong piala ke markas. Tujuan utama kompetisi usia muda adalah membentuk fondasi karakter, mengasah mental bertanding, membangun pemahaman taktik secara profesional, serta menjadi jembatan transisi dari pembinaan dasar menuju jenjang karier profesional. Tanpa atmosfer kompetisi resmi yang kompetitif dan terstruktur, bakat alamiah yang dimiliki anak-anak daerah hanya akan mandek di level latihan rutin semata.

Ketika klub-klub daerah yang berstatus anggota PSSI memilih pasif, secara otomatis kesempatan emas para pemain muda di daerah home base masing-masing menjadi terputus. Aspirasi dan bakat pesepak bola muda Ranah Minang akhirnya terombang-ambing tanpa kepastian jalur pembinaan.
Pemerintah daerah selaku pembina klub tidak boleh tinggal diam dan menutup mata. Kepala daerah dan dinas terkait harus segera turun tangan mengevaluasi jajaran pengurus klub yang vakum. Jangan biarkan klub-klub kebanggaan daerah ini hanya sekadar nama di atas kertas tanpa kontribusi nyata bagi masa depan sepak bola Ranah Minang. Sudah saatnya pemerintah daerah dan PSSI Sumbar duduk bersama membenahi masalah ini sebelum bakat-bakat muda kita benar-benar kehilangan panggungnya. (**)



Tinggalkan Balasan