- Semen Padang FC memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi dan penyampaian pernyataan sikap resmi klub, termasuk terkait isu kegagalan perekrutan pemain.
- Suporter meminta manajemen Semen Padang FC menyampaikan klarifikasi persoalan penting secara terbuka melalui media massa agar tercipta transparansi dan interaksi yang lebih jelas.
- Pemerhati media sosial mengingatkan risiko pengelolaan konten yang tidak terukur karena dapat mengganggu fokus dan mental pemain, membocorkan privasi taktik, serta merusak reputasi klub.
Padang-Dunia digital dan media sosial (Medsos) saat ini, memang di memanfaatkan semua orang untuk mempromosikan produksi mereka, termasuk klub-klub sepakbola profesional. Hampir rata-rata klub sepakbola memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan klub, termasuk klub kebanggaan urang awak Semen Padang FC.
Klub berjuluk Kabau Sirah benar-benar memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan tim, dengan membuat konten-konten. Mulai dari suasana latihan, rekrutan, kontrak pemain hingga pernyataan manajemen seputar persiapan. Selain itu, manajemen juga memanfaatkan kanal media sosialnya, untuk menjawab persoalan yang dihadapi tim, Terbaru di media sosialnya, Semen Padang membuat pernyataan sikap soal rekrutan yang gagal.
Postingan terakhir Semen Padang FC soal pernyataan sikap di kanal klub, menjadi pertanyaan bagi pencinta sepakbola di Sumbar.
“Pernyataan sikap manajemen yang dimuat di media sosial, memang tidak salah, namun kalau persoalan untuk klarifikasi, alangkah eloknya manajemen ini menyampaikan secara terbuka di hadapan media,” ujar Andi warga Padang pencinta Semen Padang FC, Rabu (29/7/29).
Katanya, kalau manajemen menyampaikan secara terbuka bersama media, maka akan ada interaksi atau pertanyaan seputar persoalan. Intinya semua lebih jelas terhadap akar persoalan.

“Jangan bikin blunder di media sosial, apa-apa langsung media sosial. Sebenarnya, ada yang pantas dan tidak pantas untuk dimuat klub di media sosial. Kalau pernyataan sikap soal rekrutan Semen Padang yang gagal harus disampaikan dengan terbuka,” terangnya.
Sementara pencinta dunia digital dan media sosial asal Sumbar Riko Ahmad menyatakan, pemanfaatan media sosial untuk promosi klub punyai sisi positif dan negatif. Kalau dari sisi positif, media sosial bisa memperluas pasaran klub. Klub bisa menjangkau fans baru di seluruh dunia. Selain itu, klub bisa atur berita sendiri tanpa lewat media luar. Namun bila info kanal klub tidak diatur atau dibatasi dengan materi yang jelas, juga akan memengaruhi persiapan tim.
“Kalau pengaturan konten tidak jelas, ini bisa menjadi risiko terhadap klub. Bila konten yang dimuat asal-asalan, akan timbul hujatan dari pengikut atau netizen,” terang Riko di Padang, Rabu (29/7/26).
Katanya, bila konten yang dibuat klub tak terukur bakal ada gangguan, terutama latihan. Pemain bisa kurang fokus karena sibuk syuting atau urus media sosial. Selain itu, dengan konten yang tak bermutu, risiko komentar buruk akan muncul, dan ini akan membuat mental pemain drop.
“Admin klub harus punya konsep yang jelas dalam membuat konten. Jangan asal sorot, dan itu akan memancing komentar buru dari pengikut atau netizen,” terangnya.
Selain itu, jelasnya, dengan menomor satukan info di media sosial, klub akan kehilangan privasi. Di mana ruang ganti jadi tidak privasi dan rahasia taktik bisa bocor.
“Kalau salah materi atau atau konten gagal dan terlihat berlebihan, maka fokus pemain terpecah, mental pemain terganggu akibat hujatan, dan citra klub rusak,” terangnya.
“Intinya klub jangan bikin blunder di media sosial. Karena akan berbahaya bagi klub karena dapat merusak reputasi, memicu kemarahan suporter, dan menurunkan kepercayaan sponsor dalam hitungan detik,” tambahnya. (sal)



Tinggalkan Balasan