Rangkuman Utama
  • Gubernur Sumatera Barat menginstruksikan pengetatan pengawasan di lingkungan sekolah menyikapi temuan BNNP terkait 63 ribu penyalahguna narkoba dari kalangan usia produktif (15–24 tahun).
  • BNNP mengindikasikan ancaman narkoba di Sumatera Barat semakin serius karena tidak lagi sekadar menjadi daerah perlintasan, melainkan disinyalir telah menjadi lokasi produksi.
  • Pemerintah daerah mengedepankan peran pemerintahan nagari dan keluarga sebagai benteng pencegahan awal, yang didukung oleh program rehabilitasi serta pendampingan terpadu.
Catatan Redaksi: Ringkasan di atas diproses menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) untuk memudahkan pembaca, dengan tetap di bawah pengawasan redaksi.

PadangGubernur Sumatera Barat Mahyeldi, menginstruksikan Dinas Pendidikan agar memperketat pengawasan terhadap aktivitas pihak luar yang masuk ke lingkungan sekolah. Hal itu dilakukan terkait dengan temuan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP), di mana BNNP mencatat sekitar 63 ribu penyalahguna narkoba di Sumatera Barat Sumbar dilakukan usia produktif (15–24 tahun).

“Kita harus memperketat pengawasan, selama ini kita mengira Sumbar hanya menjadi daerah perlintasan. Namun dari informasi yang kami terima dari BNNP, ada indikasi narkoba juga diproduksi di daerah ini. Artinya persoalannya jauh lebih serius dan harus menjadi perhatian kita bersama,” ujar Mahyeldi.

Selain itu, katanya, pemerintahan nagari harus menjadi garda terdepan untuk deteksi dini terhadap penyalahgunaan narkoba, judi daring, serta masalah sosial lainnya.

“Kita juga mengharapkan, peran keluarga sebagai fondasi pencegahan, serta memperkuat fasilitas dan efektivitas program rehabilitasi bagi para penyalahguna narkoba,” jelasnya.

Ditambahkannya, menyikapi isu ini, pemerintah mengedepankan pendekatan pendampingan terpadu melalui layanan psikologis, kesehatan, serta kolaborasi dengan lembaga sosial dan instansi terkait.

“Kita akan terus mengawali ini, agar masalah narkoba ini bisa diatasi bersama,” terangnya. (sal)